Featured Article

Sabtu, 09 Juli 2011

pantun cinta

Layang-layang di atas bukit,
Kayu tengar dari seberang;
Cinta sayang bukan sedikit,
Racun penawar tuan seorang.
Wilkinson & Winstedt: 244

Minggu, 03 Juli 2011

Tidak Konsisten dengan Pengetahuan


Tidak Konsisten dengan Pengetahuan

Seorang Darwis ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup dari Nasrudin. Nasrudin bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktek. Darwis itu pun bersedia menemani Nasrudin dan melihat perilakunya.

Malam itu Nasrudin menggosok kayu membuat api. Api kecil itu ditiup-tiupnya.

"Mengapa api itu kau tiup?" tanya sang Darwis.

"Agar lebih panas dan lebih besar apinya," jawab Nasrudin.

Setelah api besar, Nasrudin memasak sop. Sop menjadi panas. Nasrudin menuangkannya
ke dalam dua mangkok. Ia mengambil mangkoknya, kemudian meniup-niup sopnya.

"Mengapa sop itu kau tiup?" tanya sang Darwis.

"Agar lebih dingin dan enak dimakan," jawab Nasrudin.

"Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu," ketus si Darwis,

"Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu."

Ah, konsistensi.

RUKUN SHALAT

RUKUN SHALAT ADA 13 PERKARA :
1. Niat
2. Berdiri bagi yang mampu
3. Takbiratul ikhram
4. Membaca Al-fatehah
5. Ruku’
6. I’tidal
7. Sujud
8. Duduk diantara dua salam
9. Duduk pada tasyahud akhir
10. Membaca tasyahud akhir
11. Membaca shalawat Nabi
12. Salam
13. Tertib

YANG MEMBATALKAN SHALAT ADA 12 PERKARA
1. Sengaj berbicara
2. Bergerak yang bukan gerakan shalat berturut-turut sebanyak 3 x
3. Berhadats kecil atau besar
4. Terkena Najis
5. Terbukanya aurat dengan sengaja
6. Berbah Niat
7. Membelakangi kiblat
8. Makan atau minum dengan sengaja walaupun sedikit
9. Tertawa terbahak-bahak
10. Murtad
11. Meninggalkan salah satu rukun dengan sengaja
12. Mendahului Imam sebanyak 2 rukun.

Hakekat rukun sembahyang 13 perkara ialah :
1. Sendi Tengkok
2. Sendi Bahu kanan
3. Sendi Lengan kanan
4. Sendi Tangan kanan
5. Sendi Bahu kiri
6. Sendi Lengan kiri
7. Sendi Tangan kiri
8. Sendi paha kanan
9. Sendi paha kiri
10. Sendi lutut kanan
11. Sendi lutut kiri
12. Sendi kaki kiri

NIAT SEMBAHYANG DIBAGI EMPAT :

1. NIAT BASITAH
2. NIAT TAUZI’IYAH
3. NIAT HURUPIAH
4. NIAT KAMALIYAH

NIAT YANG INI DIBAGI LAGI 2 : 2 NIAT YANG BATAL DAN 2 NIAT YANG SYAH
2. NIAT YANG BATAL :
1. Niat Basitah Artinya terhampar,mulai dari Ussalli kemudian diartikan dalam hati.
2. Niat tauzi’iyah ialah mengartikan dalam satu kalimat.
Contoh : Ussalli pardal juhri arba’araka atin lillahhi ta’ala (tidak di artikan di dalam hati).
2 NIAT YANG SYAH :
1. Niat hurupiah ialah : Menghadirkan zat shalat dahulu sedikit sebelum takbiratul ihkram.
Zat shalat Qalbu atau Hati.

NIAT HURUPIAH ADA 3 :
1. Dani yaitu Roh Tabi’i
2. Usto’ yaitu Roh ‘Idafi
3. Kasui yaitu Roh Rabbani yang lebih tinggi dari Dani dan Usto’.

3. Niat Kamaliah yaitu : Niat para Nabi,Wali artinya : Mulailah niat yang syah itu dari huruf Alif Allah dan di akhiri dengan Allahu Akbar.

DALIL YANG MENDUKUNG DUA NIAT YANG SYAH :
1. AWALUDIN MA’RIFATULLAH Artinya : Awal agama mengenal Allah
2. LAYASUL SHALAT ILLA BIN MA’RIFAT Artinya : Tidak syah shalat tanpa mengenal Allah.
3. LA SHALATAN ILLA BI HUDURIL QALBI Artinya : Tidak syah shalatnya kalau tidak hadir Hatinya atau Qalbunya.
4. WAKALBUL MU’MIN BAITULLAH Artinya : Jiwa (Hati) orang mu’min itu rumahnya Allah.
5. WAFI ANFUSIKUM AFALA TUBSIRUN Artinya : Aku ada didalam jiwamu (Hatimu) mengapa kamu tidak melihat.
6. MAN ARAFA NAFSAHU FAKAT ARAFA RABBAHU Artinya: Barang siapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal Allah.
7. LA TAK BUDU RABBANA LAM YARAH Artinya : Aku (Syaidina Ali) tidak akn menyembah Allah,Bila aku tidak melihatnya.
8. Dan seterusnya ….banyak lagi dalil yang mendukung 2 Niat yang syah tersebut diatas.
BISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM
INNA AURAMA YANJURU MIN ‘AKMALIHIS SHALAT PA’IN ZAJAT LAHU NUJIRA FISA IRI AKMALIHI WAINLAM TAJUD LAHU YANJURU FISAI IN MIN AKMALIHI BAKDA Artinya :
Sesungghnya yang mula-mula dilihat oleh Allah dari amalan anak manusia adalah shalatnya.Apabila shalatnya sempurna diterimalah ahalatnya itu dengan amal-amalnya yang lain.
Jika shalatnya tidak sempurna,maka ditolaklah shalatnya itu dengan amal-amalnya yang lain.(HR.HAKIM).

YAKTI ALANNASI ZAMANU YUSALLUUNA WALA YUSALLUUN. Artinya :
Akan datang kepada manusia suatu zaman,banyak yang shalat padahal sebenarnya mereka tidak shalat.(QR.AHMAD).

PAWAILUL LIL MUSALLIN…….maka celakalah bagi orang-orang yang shalat.
ALLAZINAHUM AN SHALATIHIM SAHUN…….(Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.(QS.AL-MAUN AYAT 4 DAN 5).
QAD AFLAHA MAN TAJAKKA WAJA KARAS MARABBIHI FASHALLAH.
Artinya : Sesungguhya berbahagialah orang-orang yang selalu mensucikan jiwanya,dan dia ingat nama Tuhannya lalu ia shalat.(QS.AL-A’LA 14,15).

Kemuliaan dan Kedermawanan


Kemuliaan dan Kedermawanan

Diceritakan bahwa pasukan Romawi menahan sebagian kaum wanita muslimat, kemudian beritanya terdengar oleh Al-Manshur bin 'Ammar. Orang-orang pun menyarankan kepadanya: “Sebaiknya engkau membuat majelis di dekat Amirul Mukminin, kemudian engkau gugah semangat manusia untuk melakukan penyerangan (dalam rangka membebaskan wanita muslimat yang ditawan tersebut).”

Maka selanjutnya Al-Manshur membuat majelis di dekat Amirul Mukminin, Harun Ar-Rasyid, yaitu di Ruqqah yang ada di negeri Syam.

Ketika Syekh Al-Manshur sedang menganjurkan kepada orang-orang untuk berjihad di jalan Allah, tiba-tiba dilemparkanlah sebuah buntelan kain yang di dalamnya terdapat sebuah kantong terikat dan bercap. Padanya terdapat sepucuk surat. Al-Manshur kemudian membuka surat tersebut dan ternyata isinya adalah sebagai berikut:

“Sesungguhnya aku adalah salah seorang wanita dari kalangan keluarga Arab. Telah sampai kepadaku berita tentang apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Romawi terhadap kaum muslimat dan aku telah mendengar pula perihal anjuranmu kepada kaum Muslim agar mereka melakukan penyerangan berkenaan dengan kasus tersebut. Untuk itu, aku sengaja mengambil sesuatu yang paling berharga dari tubuhku, yaitu kedua kepangan rambutku ini yang kupotong, lalu kumasukkan ke dalam buntelan yang bercap ini. Aku memohon kepada Allah Yang Maha Besar semoga engkau menjadikan keduanya sebagai bagian dari tali kendali kuda yang digunakan untuk berjihad di jalan Allah. Mudah-mudahan Allah Yang Maha Besar memperhatikan keadaanku yang sangat prihatin ini, lalu Dia mengasihani diriku melalui keduanya.”

Setelah membaca ungkapan yang sangat menyentuh ini, Manshur tidak dapat menguasai dirinya lagi, hingga ia menangis dan orang-orang yang hadir di majelisnya pun ikut menangis. Saat itu juga khalifah Harun Ar-Rasyid bangkit dan memerintahkan untuk melakukan mobilisasi umum, lalu ia sendiri ikut berperang bersama kaum mujahid di jalan Allah. Akhirnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kemenangan kepada pasukan kaum Muslim.

TAYAMUM

TAYAMUM

A.Pengertian Tayamum
Tayamum secara bahasa adalah bermaksud, sedangkan secara syara’ yaitu mengusap tanah kemuka dan kedua tangan, Firman Allah :
”Dan apabila kamu sakit, dalam perjalanan, atau kembali tenpat buang air, atau menyentuh perempuan ,atau kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih), sapulah muka mu dan keduan tanganmu denagan tanah itu (AN Nisa' 42)
B. Sebab diperbolehkanya tayamum
1. Kesulitan mengunakan air, bagi orang sakit, atau takut bahaya apabila megunakan air
2. Tidak ada air

B. Syarat-syarat tayamum
1. Sudah masuknya waktu sholat
2. Sudah usahakan cari air
3. Dengan debu yang suci dan berdebu

C. Rukun Tayamum
1. Niat
2. Mengusap wajah dengan debu,
3. Mengusap kedua tangan sampai ke siku dengan tanah
4. Menertibkan rukun-rujun

D.SunatTayamum
1. Menbaca basmalah
2. Meniupkan tanah dari telapak tangan , supaya tanah menjadi tipis

E.Yang menbatalkan Tayamum
1. Tiap-tiap yang menbatalkan wudu’
2. Melihat air, sebelum sholat, apabila tayamum disebabkan oleh tidak ada air
3. kemanpuan mengunakan air apabila disebabkan udur mengunakan air

Menyengsarakan Anggota DPR


Menyengsarakan Anggota DPR

Suatu hari di negara antah berantah, muncul suatu kebijakan baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya di negara lain.

Kebijakan itu yakni, setiap orang yang berstatus wakil dinaikkan pangkatnya. Wakil presiden jadi presiden, wakil direktur menjadi direktur, wakil komandan menjadi komandan, wakil gubernur menjadi gubernur, wakil RT menjadi ketua RT dan seterusnya. Yang penting dalam program ini tidak ada penggusuran posisi. Perkara ada posisi ganda, itu bisa diatur dalam pembagian tugasnya.

Masalah pembengkakan anggaran, semua ditanggung oleh negara. Sesudah mantap dengan rencana itu, diajukanlah program ini ke DPR untuk mendapatkan persetujuan mereka. Ternyata mereka menolak, betul-betul menolak keras. Bahkan, ditolak mentah-mentah dengan sangat keras.

Alasannya, program ini menyengsarakan anggota DPR. Bayangkan, mereka akan berubah status dari wakil rakyat menjadi rakyat.

Biografi Ibnu Malik : Pengarang Kitab Alfiyyah


Biografi Ibnu Malik : Pengarang Kitab Alfiyyah

Biografi Ibnu Malik : Pengarang Kitab AlfiyyahIbnu Malik, nama lengkapnya adalah Syeikh Al-Alamah Muhammad Jamaluddin ibnu Abdillah ibnu Malik al-Thay, lahir di Jayyan. Daerah ini sebuah kota kecil di bawah kekuasaan Andalusia (Spanyol). Pada saat itu, penduduk negeri ini sangat cinta kepada ilmu, dan mereka berpacu dalam menempuh pendidikan, bahkan berpacu pula dalam karang-mengarang buku-buku ilmiah. Pada masa kecil, Ibn Malik menuntut ilmu di daerahnya, terutama belajar pada Syaikh Al-Syalaubini (w. 645 H).

Setelah menginjak dewasa, ia berangkat ke Timur untuk menunaikan ibadah haji,dan diteruskan menempuh ilmu di Damaskus. Di sana ia belajar ilmu dari beberapa ulama setempat, antara lain Al-Sakhawi (w. 643 H). Dari sana berangkat lagi ke Aleppo, dan belajar ilmu kepada Syaikh Ibn Ya’isy al-Halaby (w. 643 H).

Di kawasan dua kota ini nama Ibn Malik mulai dikenal dan dikagumi oleh para ilmuan, karena cerdas dan pemikirannya jernih. Ia banyak menampilkan teori-teori nahwiyah yang menggambarkan teori-teori mazhab Andalusia, yang jarang diketahui oleh orang-orang Syiria waktu itu. Teori nahwiyah semacam ini, banyak diikuti oleh murid-muridnya, seperti imam Al-Nawawi, Ibn al-Athar, Al-Mizzi, Al-Dzahabi, Al-Shairafi, dan Qadli al-Qudlat Ibn Jama’ah. Untuk menguatkan teorinya, sarjana besar kelahiran Eropa ini, senantiasa mengambil saksi (syahid) dari teks-teks Al-Qur’an. Kalau tidak didapatkan, ia menyajikan teks Al-Hadits. Kalau tidak didapatkan lagi, ia mengambil saksi dari sya’ir-sya’ir sastrawan Arab kenamaan. Semua pemikiran yang diproses melalui paradigma ini dituangkan dalam kitab-kitab karangannya, baik berbentuk nazhom (syair puitis) atau berbentuk natsar (prosa). Pada umumnya, karangan tokoh ini lebih baik dan lebih indah dari pada tokoh-tokoh pendahulunya.

Di antara ulama, ada yang menghimpun semua tulisannya, ternyata tulisan itu lebih banyak berbentuk nazham. Demikian tulisan Al-Sayuthi dalam kitabnya, Bughyat al-Wu’at. Di antara karangannya adalah Nazhom al-Kafiyah al-Syafiyah yang terdiri dari 2757 bait. Kitab ini menyajikan semua informasi tentang Ilmu Nahwu dan Shorof yang diikuti dengan komentar (syarah). Kemudian kitab ini diringkas menjadi seribu bait, yang kini terkenal dengan nama Alfiyah Ibnu Malik. Kitab ini bisa disebut Al-Khulashah (ringkasan) karena isinya mengutip inti uraian dari Al-Kafiyah, dan bisa juga disebut Alfiyah (ribuan) karena bait syairnya terdiri dari seribu baris. Kitab ini terdiri dari delapan puluh (80) bab, dan setiap bab diisi oleh beberapa bait.

Bab yang terpendek diisi oleh dua bait seperti Bab al-Ikhtishash dan bab yang terpanjang adalah Jama’ Taktsir karena diisi empat puluh dua bait. Dalam muqaddimahnya, kitab puisi yang memakai Bahar Rojaz ini disusun dengan maksud (1) menghimpun semua permasalahan nahwiyah dan shorof yang dianggap penting. (2) menerangkan hal-hal yang rumit dengan bahasa yang singkat , tetapi sanggup menghimpun kaidah yang berbeda-beda, atau dengan sebuah contoh yang bisa menggambarkan satu persyaratan yang diperlukan oleh kaidah itu.(3) membangkitkan perasaan senang bagi orang yang ingin mempelajari isinya. Semua itu terbukti, sehingga kitab ini lebih baik dari pada Kitab Alfiyah karya Ibn Mu’thi. Meskipun begitu, penulisnya tetap menghargai Ibnu Mu’thi karena tokoh ini membuka kreativitas dan lebih senior. Dalam Islam, semua junior harus menghargai seniornya, paling tidak karena dia lebih sepuh, dan menampilkan kreativitas.

Kitab Khulashoh yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia ini, memiliki posisi yang penting dalam perkembangan Ilmu Nahwu. Berkat kitab ini dan kitab aslinya, nama Ibn Malik menjadi popular, dan pendapatnya banyak dikutip oleh para ulama, termasuk ulama yang mengembangkan ilmu di Timur. Al-Radli, seorang cendekiawan besar ketika menyusun Syarah Al-Kafiyah karya Ibn Hajib, banyaklah mengutip dan mempopulerkan pendapat Ibn Malik. Dengan kata lain, perkembangan nahwu setelah ambruknya beberapa akademisi Abbasiyah di Baghdad, dan merosotnya para ilmuan Daulat Fathimiyah di Mesir, maka para pelajar pada umumnya mengikuti pemikiran Ibnu Malik. Sebelum kerajaan besar di Andalusia runtuh, pelajaran nahwu pada awalnya, tidak banyak diminati oleh masyarakat.

Tetapi setelah lama, pelajaran ini menjadi kebutuhan dan dinamislah gerakan karang-mengarang kitab tentang ilmu yang menarik bagi kaum santri ini. Di sana beredarlah banyak karangan yang beda-beda, dari karangan yang paling singkat sampai karangan yang terurai lebar. Maksud penulisnya ingin menyebarkan ilmu ini, kepada masyarakat, dan dapat diambil manfaat oleh kaum pelajar. Dari sekian banyak itu, muncullah Ibn Malik, Ibn Hisyam, dan al-Sayuthi. Karangan mereka tentang kitab-kitab nahwu banyak menampilkan metoda baru dan banyak menyajikan trobosan baru, yang memperkaya khazanah keilmuan. Mereka tetap menampilkan khazanah keilmuan baru, meskipun banyak pula teori-teori lama yang masih dipakai. Dengan kata lain, mereka menampilkan gagasan dan kreatifitas yang baru, seolah-olah hidup mereka disiapkan untuk menjadi penerus Imam Sibawaih (Penggagas munculnya Nahwu dan Shorof, red.). Atas dasar itu, Alfiyah Ibn Malik adalah kitab yang amat banyak dibantu oleh ulama-ulama lain dengan menulis syarah (ulasan) dan hasyiyah (catatan pinggir) terhadap syarah itu.

Dalam kitab Kasyf al-Zhunun, para ulama penulis Syarah Alfiyah berjumlah lebih dari empat puluh orang. Mereka ada yang menulis dengan panjang lebar, ada yang menulis dengan singkat (mukhtashar), dan ada pula ulama yang tulisannya belum selesai. Di sela-sela itu muncullah beberapa kreasi baru dari beberapa ulama yang memberikan catatan pinggir (hasyiyah) terhadap kitab-kitab syarah. Syarah Alfiyah yang ditulis pertama adalah buah pena putera Ibn Malik sendiri, Muhammad Badruddin (w.686 H). Syarah ini banyak mengkritik pemikiran nahwiyah yang diuraikan oleh ayahnya, seperti kritik tentang uraian maf’ul mutlaq, tanazu’ dan sifat mutasyabihat. Kritikannya itu aneh tapi putera ini yakin bahwa tulisan ayahnya perlu ditata ulang. Atas dasar itu, Badruddin mengarang bait Alfiyah tandingan dan mengambil syahid dari ayat al-Qur’an.

Disitu tampak rasional juga, tetapi hampir semua ilmuan tahu bahwa tidak semua teks al-Qur’an bisa disesuaikan dengan teori-teori nahwiyah yang sudah dianggap baku oleh ulama. Kritikus yang pada masa mudanya bertempat di Ba’labak ini, sangat rasional dan cukup beralasan, hanya saja ia banyak mendukung teori-teori nahwiyah yang syadz Karena itu, penulis-penulis Syarah Alfiyah yang muncul berikutnya, seperti Ibn Hisyam, Ibn Aqil, dan Al-Asymuni, banyak meralat alur pemikiran putra Ibn Malik tadi. Meskipun begitu, Syarah Badrudin ini cukup menarik, sehingga banyak juga ulama besar yang menulis hasyiyah untuknya, seperti karya Ibn Jama’ah (w.819 H), Al-‘Ainy (w.855 H), Zakaria al-Anshariy (w.191 H), Al-Sayuthi (w.911 H), Ibn Qasim al-Abbadi (w.994 H), dan Qadli Taqiyuddin ibn Abdulqadir al-Tamimiy (w.1005 H).

Di antara penulis-penulis Syarah Alfiyah lainnya, yang bisa ditampilkan dalam tulisan ini, adalah Al-Muradi, Ibnu Hisyam, Ibnu Aqil, dan Al-Asymuni.

Al-Muradi (w. 749 H) menulis dua kitab syarah untuk kitab Tashil al-Fawaid dan Nazham Alfiyah, keduanya karya Ibn Malik. Meskipun syarah ini tidak popular di Indonseia, tetapi pendapat-pendapatnya banyak dikutip oleh ulama lain. Antara lain Al-Damaminy (w. 827 H) seorang sastrawan besar ketika menulis syarah Tashil al-Fawaid menjadikan karya Al-Muradi itu sebagai kitab rujukan. Begitu pula Al-Asymuni ketika menyusun Syarah Alfiyah dan Ibn Hisyam ketika menyusun Al-Mughni banyak mengutip pemikiran al-Muradi yang muridnya Abu Hayyan itu.

Ibnu Hisyam (w.761 H) adalah ahli nahwu raksasa yang karya-karyanya banyak dikagumi oleh ulama berikutnya. Di antara karya itu Syarah Alfiyah yang bernama Audlah al-Masalik yang terkenal dengan sebutan Audlah . Dalam kitab ini ia banyak menyempurnakan definisi suatu istilah yang konsepnya telah disusun oleh Ibn Malik, seperti definisi tentang tamyiz. Ia juga banyak menertibkan kaidah-kaidah yang antara satu sama lain bertemu, seperti kaidah-kaidah dalam Bab Tashrif. Tentu saja, ia tidak hanya terpaku oleh Mazhab Andalusia, tetapi juga mengutip Mazhab Kufa, Bashrah dan semacamnya. Kitab ini cukup menarik, sehingga banyak ulama besar yang menulis hasyiyahnya. Antara lain Hasyiyah Al-Sayuthi, Hasyiyah Ibn Jama’ah, Ha-syiyah Putera Ibn Hisyam sendiri, Hasyiyah Al-Ainiy, Hasyiyah Al-Karkhi, Hasyiyah Al-Sa’di al-Maliki al-Makki, dan yang menarik lagi adalah catatan kaki ( ta’liq ) bagi Kitab al-Taudlih yang disusun oleh Khalid ibn Abdullah al-Azhari (w. 905 H).

Ibnu Aqil (w. 769 H) adalah ulama kelahiran Aleppo dan pernah menjabat sebagai penghulu besar di Mesir. Karya tulisnya banyak, tetapi yang terkenal adalah Syarah Alfiyah. Syarah ini sangat sederhana dan mudah dicerna oleh orang-orang pemula yang ingin mempelajari Alfiyah Ibn Malik . Ia mampu menguraikan bait-bait Alfiyah secara metodologis, sehingga terungkaplah apa yang dimaksudkan oleh Ibn Malik pada umumnya. Penulis berpendapat, bahwa kitab ini adalah Syarah Alfiyah yang paling banyak beredar di pondok-pondok pesantren, dan banyak dibaca oleh kaum santri di Indonesia. Terhadap syarah ini, ulama berikutnya tampil untuk menulis hasyiyahnya. Antara lain Hasyiyah Ibn al-Mayyit, Hasyiyah Athiyah al-Ajhuri, Hasyiyah al-Syuja’i, dan Hasyiyah Al-Khudlariy.

Syarah Alfiyah yang hebat lagi adalah Manhaj al-Salik karya Al-Asymuni (w. 929 H). Syarah ini sangat kaya akan informasi, dan sumber kutipannya sangat bervariasi. Syarah ini dapat dinilai sebagai kitab nahwu yang paling sempurna, karena memasukkan berbagai pendapat mazhab dengan argumentasinya masing-masing. Dalam syarah ini, pendapat para penulis Syarah Alfiyah sebelumnya banyak dikutip dan dianalisa. Antara lain mengulas pendapat Putra Ibn Malik, Al-Muradi, Ibn Aqil, Al-Sayuthi, dan Ibn Hisyam, bahkan dikutip pula komentar Ibn Malik sendiri yang dituangkan dalam Syarah Al-Kafiyah , tetapi tidak dicantumkan dalam Alfiyah . Semua kutipan-kutipan itu diletakkan pada posisi yang tepat dan disajikan secara sistematis, sehingga para pembaca mudah menyelusuri suatu pendapat dari sumber aslinya.

Kitab ini memiliki banyak hasyiyah juga, antara lain : Hasyiyah Hasan ibn Ali al-Mudabbighi, Hasyiyah Ahmad ibn Umar al-Asqathi, Hasyiyah al-Hifni, dan Hasyiyah al-Shabban. Dalam muqaddimah hasyiyah yang disebut akhir ini, penulisnya mencantumkan ulasan, bahwa metodanya didasarkan atas tiga unsur, yaitu (a) Karangannya akan merangkum semua pendapat ulama nahwu yang mendahului penulis, yang terurai dalam kitab-kitab syarah al-Asymuni. (b) Karangannya akan mengulas beberapa masalah yang sering menimbulkan salah faham bagi pembaca. (c) Menyajikan komentar baru yang belum ditampilkan oleh penulis hasyiyah sebelumnya. Dengan demikian, kitab ini bisa dinilai sebagai pelengkap catatan bagi orang yang ingin mempelajari teori-teori ilmu nahwu.

Air Mata Taubat Nabi Adam A.S


Air Mata Taubat Nabi Adam A.S

Semenjak Nabi Adam keluar dari Syurga akibat tipu daya iblis, beliau menangis selama 300 tahun. Nabi Adam tidak mengangkat kepalanya ke langit karena terlampau malu kepada Allah SWT. Beliau sujud di atas gunung selama seratus tahun. Kemudian menangis lagi sehingga air matanya mengalir di jurang Serantip.

Dari air mata Nabi Adam itu Allah tumbuhkan pohon kayu manis dan pokok cengkih. Beberapa ekor burung telah meminum air mata beliau. Burung itu berkata, "Sedap sungguh air ini." Nabi Adam terdengar kata-kata burung tersebut. Beliau menyangka burung itu sengaja
mengejeknya karena perbuatan durhakanya kepada Allah. Ini membuat Nabi Adam semakin hebat menangis.

Akhirnya Allah SWT telah menyampaikan wahyu yang bermaksud, "Hai Adam, sesungguhnya aku belum pernah menciptakan air minum yang lebih lezat dan hebat dari air mata taubatmu itu."

Do'a Orang Teraniaya

Do'a Orang Teraniaya

Suatu pagi seorang laki-laki pergi berburu untuk mendapatkan rezeki yang halal. Namun hingga sore, ia belum mendapat satu pun binatang buruan. Lalu ia berdoa dengan tulus: "Ya Allah, anak-anakku menunggu kelaparan di rumah, berilah aku seekor binatang buruan". Setelah doanya ia panjatkan, Allah memberikannya rezeki, jala yang dibawa pemburu itu mengenai seekor ikan yang sangat besar. Ia pun bersyukur kepada Allah. Kemudian, beranjaklah ia pulang dengan hati riang.

Di tengah jalan, ia bertemu dengan kelompok orang dengan seorang raja yang hendak
berburu. Raja heran dan takjub luar biasa begitu melihat ikan besar yang dibawa pemburu itu. Lalu, ia menyuruh pengawal untuk merampas ikan itu dari sang pemburu.

Tanpa susah payah, raja itupun mendapatkan ikan itu dengan gembira, ia langsung pulang. Ketika sampai di istana, ia mengeluarkan dan membolak-balik ikan itu sambil tertawa ria. Tiba-tiba ikan itu mengigit jarinya, akibatnya, badan sang raja panas dingin, sehingga malam itu sang raja tidak bisa tidur.

Dengan rasa cemas, raja itupun memerintahkan agar seluruh dokter dihadirkan untuk mengobati sakitnya. Semua dokter menyarankan agar jarinya itu dipotong untuk menghindari tersebarnya racun ke anggota badan lain. Raja pun menyetujui nasihat mereka. Namun setelah jarinya dipotong, ia tetap tidak dapat istirahat karena ternyata racun itu telah menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Para dokter pun menyarankan agar pergelangan tangan raja dipotong dan raja pun menyetujuinya. Namun setelah pergelangan tangannya dipotong, tetap saja raja tidak dapat memejamkan matanya, bahkan rasa sakitnya makin bertambah.Ia berteriak dan meringis dengan keras karena racun itu telah merasuk dan menyebar ke anggota tubuh lainnya.

Seluruh dokter akhirnya menyarankan agar tangan hingga siku raja dipotong, raja pun menyetujuinya. Setelah tangan hingga sikunya dipotong, sakit jasmaninya kini telah hilang, tetapi diri dan jiwanya tetap belum tenang. Semua dokter akhirnya menyarankan agar raja dibawa ke seorang dokter jiwa (ahli hikmah).

Dibawalah sang raja menemui seorang dokter jiwa dan diceritakan seluruh kejadian seputar ikan yang ia rampas dari pemburu itu. Mendengar hal itu, ahli hikmah berkata, "Jiwa Tuan tetap tidak akan tenang selamanya sampai pemburu itu memaafkan dosa dan kesalahan yang telah Tuan perbuat."

Kemudian raja itu pun mencari pemburu itu. Setelah didapatkan, raja menceritakan kejadian yang dialaminya dan ia memohon agar si pemburu itu memaafkan semua kesalahannya. Si pemburu pun memaafkannya sambil berjabat tangan.

Sang raja penasaran ingin mengetahui apa yang dikatakan si pemburu ketika raja merampas ikannya. "Wahai pemburu apa yang kau katakan ketika aku merampas ikanmu itu?" tanya sang raja.

"Aku hanya mengatakan 'ya Allah sesungguhnya dia telah menampakkan kekuatannya kepadaku, perlihatkanlah kekuatan-Mu kepadanya!" jawab pemburu itu. Sungguh, doa orang teraniaya sangat mustajab, maka berhati-hatilah dalam bertindak. Wallahu 'alam bi shawab.

WAKTU YANG TERLARANG UNTUK SHALAT

WAKTU YANG TERLARANG UNTUK SHALAT

  1. Setelah shalat fajar hingga ukuran matahari setinggi tombak.
  2. Setelah Shalat Ashar hingga matahari tenggelam.
    Tidak boleh dilaksanakannya shalat sunnah setelah 2 waktu tersebut berdasarkan hadits-hadits berikut:
    • Hadits Ibnu Abbas, ia berkata “Saya diajari oleh banyak orang yang kejujuran dan keagamaannya tidak diragukan lagi -termasuk didalamnya adalah Umar- Sesunguhnya Nabi melarang melaksanakan shalat  setelah Subuh hingga terbit matahari dan setelah Shalat Ashar hingga matahari tenggelam“. (HR Bukhari 581 dan Muslim 826)
    • Hadits Abu Sa’id, ia berkata bahwa Rasulullah r bersabda: “Tidak ada pelaksanaan shalat setelah shalat subuh hngga matahari meninggi, dan tidak ada shalat setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam.” (HR Bukhari 586 dan Muslim 727)
  3. Ketika tengah hari.
    Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Uqbah bin Amir, ia berkata: “Tiga waktu yang dilarang oleh RAsulullah untuk melaksanakan shalat atau mengubur mayit kami; Ketika matahari terbit dan bersinar terang hingga meninggi, ketika tengah hari hingga matahari tergelincir, ketika matahari condong kebarat hingga tengelam“. (HR Muslim 831)

Sebab Adanya Larangan

Nab  r telah menjelaskan sebab pelarangan shlat dalam waktu-waktu tertentu kepada Amr bin Abasah, “Kerjakanlah shalat subuh, kemudian perpendeklah shalat hingga matahari terbit, sebab ia terbit diantara dua tanduk setan dan saat itu orang-orang kafir bersujud kepadanya. Kemudian kerjakanlah shalat -sunnah- sebab shalat saat itu dihadiri dan disaksikan (oleh para malaikat) hingga bayangan tegak lurus dengan anak panah, kemudian perpendeklah dari shalat, sebab saat itu neraka jahannam dikobarkan apinya, jika banyangan benda sama dengan aslinya maka shalatlah sebab melaksanakan shalat saat itu dihadiri dan disaksikan hingga kamu melakukan shalat Ashar, kemudian perpendeklah dari shalat hingga matahari tengelam sebab ia tenggelam, sebab ia tenggelam diantara dua tanduk setan dan saat itu orang-orang kafir bersujud kepadanya“. (HR Muslim 832)
Pengecualian Dalam Larangan
  1. Ketika akan dilaksanakan shlat Jum’at.
    saat itu disunnahkan untuk melaksanakan shalat sunnah, yaitu sebelum pelaksanaan shalat jum’at hinnga Imam naik ke atas mimbar, dalam hal ini Rasulullah r bersabda: “Tidaklah seseorang mandi dihari jum’at, kemudian membersihkandiri sebersih mungkin, memakai wewangian atau beraroma wewangian rumah, kemudian ia keluar dan tidak memisahkan diantara kedua orang, lalu -ketika sampai masjid- melaksanakan shalat yang dianjurkan, kemudian mendengarkan khatib sedang berkhutbah, maka ia akan diampuni dosanya diantara satu jum’at dengan jum’at yang lain.” (HR Bukhari 883) Asy-Syafi’i berpendapat: “Dengan hadits diatas dan dalil dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah r melarang untuk melaksanakn shalat ditengah hari hingga matahari tergelincir, kecuali hari Jum’at.” (lihat Al-Umm 1/226 dan Al-Baihaqi 2/464) Namun hadits ini dha’if.
    Pendapat ulama terbagi menjadi dua pendapat:
    pertama diperbolehkan secara mutlak untuk melaksanakan shalat ditengah hari baik dihari jum’at atau selain hari jum’at. Ini adalah pendapat yang masyur dari imam Abu Hanifah dan Madzhab imam Ahmad.
    kedua secara mutlak dihukumi makruh melaksanakan shalat ditengah hari maupun selain jum’at.
    Dalam hal ini pendapat yang rajih adalah pendapat Asy-Syafi’i dan pendapat inilah yang diplih oleh Syaikhul Islam Ibnu taimiyyah. (Zad Al Ma’ad, Ibnul Qayim)
  2. Shalat dua raka’at thawaf di Baitullah Al-Haram.
    Hal ini berdasarkan pad:
    • Hadits Jabir bin Muth’am, bahwa Rasulullah r bersabda:
      Wahai Bani Abdul Manaf, janganlah kalian melarang orang yang akan thawaf dirumah ini dan melkasanakan shalat pada waktu kapanpun, baik siang atau malam hari” (HR At-Tirmidzi 869, An-Nasa’i 1/284, dan Ibnu Majah 1254)
    • Pada saat tersebut ibnu Abbas, Hasan dan Husain serta para ulama salaf melakukannya.
    • Sesungguhnya dua rakaat shalat saat thawaf adalah shalat yang berkaitan dengan thawaf, jika yang berkaitan boleh untuk dilakukan berarti yang terkaitpun boleh dilakukan. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Asy-Syafi’i dan Ahmad. Pendpat itu diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Zubair, Atha’, Thawus dan Ibnu Tsur. (Al-Umm 1/150, al-Mughni 2/81, Al-Majmu 4/72)
  3. Menqadha Shalat yang tertinggal diwaktu yang terlarang.
    Ulama terbagi menjadi 2 pendapat:
    pertama tidak boleh meng-qadha pada waktu-waktu yang terlarang. Ini adalah Madzhab Abu Hanifah dan sahabat yang lainnya. (Al-Mabsuth 1/150)
    Adapun yang mendasari pendapat mereka adalah:
    • Sesungguhnya Nabi r ketika ketidurandan tidak melaksanakan shalat pada waktunya, beliau memilih untuk mengakhirkan shalat hingga matahari terlihat putih. (HR Bukhari dan Muslim dari Umran bin Husain)
    • Ia adalah shalat yang tidak boleh dilakukan kecuali pada waktu yang telah ditentukan, ia tidak seperti shalat sunnah.
    • Diriwayatkan dari Abu Bakrah, sesungguhnya ia pernah tertidur dalam daliyah (pekarangan yang disiram dengan air timba), ia terbangun dari tidur ketika matahari telah berada disebelah barat, kemudian ia menunggu hingga matahari terbenam, setelah itu ia melakukan shalat.
    • Diriwayatkan dari Ka’ab bin Ujrah, “Sesungguhnya putranya pernah tidur hingga timbul tanduk matahari, lalu ia dudukkan, dan ketika matahari meninggi ia berkata kepadanya, ‘kerjakanlah shalat sekarang’.” (Isnadnya Dha’if, HR Tirmidzi secara muallaq 1/158, dan Ibnu Syaibah me maushul-kannya 2/66)
    kedua boleh melaksanakan shalat qadha diwaktu yang terlarang dan waktu-waktu yang lainnya. Pendapat ini adalah inti dari pendapat Madzhab Maliki, Asy-Syafi’i, Ahmad dan Jumhur Sahabat dan Tabi’in. (Al-Umm 1/148, Al-Mughni 2/80 dan Al-Ausath 2/411 dan Al Mudawwanah).
    Adapun dalil-dalil pendapat kedua adalah sebagai berikut:
    • Sabda Nabi r, “Barangsiapa yang tertidur atau lupa dari shalat, maka ia harus shalat ketika mengingatnya, dan tidak ada kafarat untuknya kecuali itu.
    • Hadits Qatadah yang diriwayatkan secara marfu’, “Sesungguhnya kecerobohan itu atas mereka yang tidak melaksanakan shalat hingga datang waktu shalat yang lainnya, siapa yang melakukan hal demikian, maka harus melaksanakan shalat ketika ia mengingatnya.” (HR Muslim 311) Dari dua hadits tersebut, jelas memerintahkan untuk melakukan shalat yang terlewatkan ketika mengingatnya atau ketika sadar, tanpa ada pengecualian waktu yang dilarang.
      Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim berkata: Dan pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat yang kedua. Adapun pengakhiran shalat yang dilakukan oleh Nabi r hingga matahari terlihat putih terang, karena tidak ada yang membangunkan dari tidur mereka kecuali panas cahaya matahari.
  4. Menqadha shalat Sunnah rawatib pada waktu-waktu yang tidak diperbolehkan.
    Dasar diperbolehkannya men-qadha shalat sunnah rawatib pada waktu-waktu yang terlarang adalah sebagai berikut:
    • Hadits Ummu Salamah, bahwa ia pernah melihat Nabi r melakukan shalat dua rakaat setelah Ashar, maka sayapun bertanya kepada beliau tentang itu, kemudia beliau menjawab,
      Wahai binti Abu Umayyah, engkau bertanya tentang shalat dua rakaat setelah shalat Ashar. Sesungguhnya aku didatangi segolongan orang dari bani Abdul Qais, mereka menyibukkanku dari melaksanakan shalat sunnah dua rakaat setelah Dzuhur dan inilah dua rakaat itu.” (HR Bukhari dan Muslim)
    • Diriwayatkan dari Qais bin Amr, ia berkata, Rasulullah pernah melihatku, saat itu aku sedang melaksanakan shalat dua rakaat fajar setelah terbitnya matahari, lalu beliau r bertanya kepadaku, “Shalat dua rakaat apa yang engkau lakukan itu wahai Qais?” Saya menjawab “Wahai Rasulullah, saya belum melaksanakan dua rakaat shalat fajar” lalu ia berkata “Kemudia beliau r diam“. (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baihaqi dengan sanad Hasan)
      Dalam riwayat yang lain dikatakan, “Kemudian beliau tidak mengingkari hal itu
    • Karena keumuman sabda Rasulullah r, “Siapa yang lupa mengerjakan shalat hendaknya ia melakukan shalat ketika mengingatnya….” Ini adalah Madzhab Asy-Syafi’i dan Maliki
  5. Shalat Jenazah setelah Subuh dan Ashar.
    Para Ulama sepakat bahwa shalat jenazah setelah Subuh dan Ashar diperbolehkan, namun mereka berbeda pendapat dalam hal waktu pelaksanaannya, seperti yang terlihat pada hadits Uqbah bin Amir; ketika matahari terbit hingga tinggi, ketika tengah hari hingga matahari tergelincir dan ketika matahari mengarah kebarat hingga tenggelam. Ulama terbagi menjadi 2 pendapat:
    • Pertama Menurut Madzhab Abu Hanifah, Malik, Ahmad dan kebanyakan ulama yang berpendapat, Tidak boleh melaksanakan shalat jenazah pada tiga waktu tersebut. Dasar mereka adalah hadits Uqbah bin Amir, ia berkata “Tiga waktu dimana Rasulullah melarang kita untuk shalat dan menguburkan mayit…” (HR Muslim) (lihat pada “Waktu yang terlarang untuk shalat Point ke-3)
    • Kedua Madzhab Asy-syafi’i dengan riwayat dari Ahmad berpendapat diperbolehkan melakukan shalat jenazah pada semua waktu yang terlarang (Al-Umm dan Al-Majmu). Dasarnya adalah bahwa shalat tersebut dilakukan dengan sebab, maka iapun harus dikecualikan dari pelarangan tersebut.
      Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim berkata: bahwa tidak diperbolehkan untuk melakukan tiga hal tersebut karena nash menjelaskan demikian. Ketika larangan tersebut iut untuk shalat maka secara tidak langsung juga untuk penguburan, sebab sebelum dikuburkan pasti si mayit dishalatkan dahulu. Hal ini berarti tidak ada pengecualian dari pelarangan tersebut.
  6. Shalat yang mempunyai sebab.
    Seperti shalat tahiyat masjid, shalat sunnah wudhu, shalat gerhana dan lain sebagainya. Namun Ulama berbeda pendapat dalam hal ini:
    • Tidak boleh dilakukan dalam waktu terlarang. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan yang masyhur dari Ahmad.
    • Diperbolehkan, ini adalah pendapat Asy-Syafi’i, adapun dalil yang dipergunakan adalah:
      • Diperbolehkannya melakukan dua raka’at untuk thawaf pada saat apapun.
      • Diperbolehkannya melakukan shalat setelah wudhu kapanpun waktunya, seperti yang ada pada hadits Bilal dan pertanyaan Nabi untuknya.
      • Shalat tahiyat masjid
      • Ketetapan Nabi yang telah melaksanakan shalat sunnah Dzuhur setelah shala Ashar karena sebab tertentu
      • Ijma Ulama yang memperbolehkan melaksanakan shalat Jenazah setelah Subuh dan Ashar.
      Dikatakan bahwa ini semua adalah pelaksanaan shalat dengan sebab, dan secara mutalk diperbolehkan untuk dikerjakan. Ataua dengan kata lain bahwa hal ini adalah pengecualian dari pelarangan yang ada.

Sejarah Pembangunan Ka’bah

Sejarah Pembangunan Ka’bah

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكاً وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ
" Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia " (QS. Al-Imran, ayat 96).

Ka'bah adalah bangunan suci ummat Muslim yang terletak di tengah Masjidil Haram di kota Mekah. Dan merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah shalat bagi umat Islam diseluruh dunia. Selain itu, merupakan
bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah. Ka'bah disebut juga Baitullah (Rumah Allah) atau Baitul 'Atiq (Rumah Kemerdekaan).

" Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur " (QS. Ibrahim, ayat 37).

Kalau kita membaca ayat diatas, kita bisa mengetahui bahwa Ka'bah telah ada sewaktu Nabi Ibrahim AS menempatkan istrinya Hajar dan bayi Ismail di lokasi tersebut. Jadi Ka'bah telah ada sebelum Nabi Ibrahim AS menginjakan kakinya di Mekah.

Bentuk Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim AS

Beginilah kira-kira bentuk Ka'bah Nabi Ibrahim
Bentuk Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim sebenarnya berbeda dengan yang kita lihat sekarang. Pada zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il, Ka’bah terdiri atas dua pintu dan letak pintunya terletak diatas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi, bentuknya juga lebih panjang dengan memasukkan Hijir Isma’il didalamnya.

Hal ini seperti yang ditunjukkan oleh Hadist yang diriwayatkan Imam Bukhori dari Siti Aisyah, bahwasanya Nabi Muhammad Saw berkata  padanya :

" Bukankah kau melihat kaummu ketika membangun Ka’bah mereka memendekkannya dari pondasi-pondasi Ibrahim?”. Maka aku (Aisyah) berkata : “Wahai Rasulullah, apakah kita tidak saja kembalikan pada pondasi-pondasi Ibrahim?” Nabi berkata : “Seandainya kaummu tidak baru saja kufur niscaya aku lakukan”.

Pembangunan Ka’bah Oleh Kaum Quraisy
Salah satu banjir yang melanda Ka'bah
Lima tahun sebelum tahun kenabian, Mekah dilanda banjir besar sehingga meluap ke Masjidil Haram dan dikhawatirkan sewaktu-waktu akan dapat meruntuhkan Ka’bah, karena sejak zaman Ibrahim hingga Quraisy, Ka’bah dibangun dengan menggunakan tumpukan batu dan tanpa perekat tanah atau yang lainnya.

Dalam membangun Ka’bah, walaupun waktu itu merupakan era jahiliyyah dimana banyak kejahatan dan kemunkaran, namun mereka tidak mau membangun Ka’bah kecuali dengan harta yang bersih dan halal.

Peletakan Hajar Aswad

Hajar Aswad merupakan batu yang berasal dari surga. Yang pertama kali meletakkan Hajar Aswad adalah Nabi Ibrahim AS. Dahulu kala batu ini memiliki sinar yang terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab. Namun semakin lama sinarnya semakin meredup dan hingga akhirnya sekarang berwarna hitam. Batu ini memiliki aroma wangi yang unik dan ini merupakan wangi alami yang dimilikinya semenjak awal keberadaannya. Dan pada saat ini batu Hajar Aswad tersebut ditaruh disisi luar Kabah sehingga mudah bagi seseorang untuk menciumnya. Adapun mencium Hajar Aswad merupakan sunah Nabi Muhammad SAW. Karena beliau selalu menciumnya setiap saat bertawaf.

Pada masa Nabi Muhammad SAW berusia 30 tahun, pada saat itu beliau belum diangkat menjadi rasul, bangunan ini direnovasi kembali akibat banjir yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Ketika sampai pada peletakkan Hajar Aswad, kaum Quraisy berselisih, siapa yang akan menaruhnya. Perselisihan ini nyaris menimbulkan pertumpahan darah, akan tetapi dapat diselesaikan dengan kesepakatan menunjuk seorang pengadil hakim yang memutuskan. Pilihan tersebut, ternyata jatuh pada Nabi Muhammad Saw.

Rasulullah Saw dengan bijak berkata pada mereka : “Berikan padaku sebuah kain”. Lalu didatangkanlah kain kepada beliau, kemudian beliau mengambil hajar Aswad dan menaruhnya dalam kain itu dengan tangannya. Lalu beliau berkata : ” Hendaklah setiap qabilah memegang sisi-sisi kain ini, kemudian angkatlah bersama-sama!”. Mereka lalu melakukannya dan ketika telah sampai ditempatnya, Rasul menaruhnya sendiri dengan tangannya kemudian dibangunlah.

Bentuk Ka’bah
Ka'bah berbentuk bangunan kubus yang berukuran 12 x 10 x 15 meter. Dibangun berupa tembok segi empat yang terbuat dari batu-batu besar yang berasal dari gunung-gunung di sekitar Mekah. Baitullah ini dibangun di atas dasar fondasi yang kokoh. Dinding-dinding sisi Ka'bah ini diberi nama khusus yang ditentukan berdasarkan nama negeri ke arah mana dinding itu menghadap. Terkecuali satu dinding yang diberi nama "Rukun Hajar Aswad".

Adapun keempat dinding atau sudut (rukun) tersebut adalah :

- Sebelah Utara Rukun Iraqi (Irak).
- Sebelah Barat Rukun Syam (Suriah).
- Sebelah Selatan Rukun Yamani (Yaman).
- Sebelah Timur Rukun Aswad (Hajar Aswad).

Keempat sisi Ka'bah ditutup dengan selubung yang dinamakan Kiswah. Sejak zaman Nabi Ismail, Ka'bah sudah diberi penutup berupa Kiswah ini. Saat ini Kiswah tersebut terbuat dari sutra asli dan dilengkapi dengan kaligrafi dari benang emas. Dalam satu tahun Ka'bah ini dicuci dua kali, yaitu pada awal bulan Dzulhijjah dan awal bulan Sya'ban. Kiswah diganti sekali dalam setahun.

Makam Nabi Ibrahim AS

Makam Ibrahim bukan kuburan Nabi Ibrahim AS sebagaimana banyak orang berpendapat. Makam Ibrahim merupakan bangunan kecil terletak disebelah timur Ka'bah. Di dalam bangunan tersebut terdapat batu yang diturunkan oleh Allah dari surga bersama-sama dengan Hajar Aswad. Di atas batu itu Nabi Ibrahim AS berdiri di saat beliau membangun Ka'bah bersama-sama puteranya Nabi Ismail AS. Dari zaman dahulu batu itu sangat terpelihara, dan sekarang ini sudah ditutup dengan kaca berbentuk kubah kecil. Bekas kedua tapak kaki Nabi Ibrahim AS yang panjangnya 27 cm, lebarnya 14 cm dan dalamnya 10 cm masih nampak dan jelas dilihat orang.



Multazam

Multazam terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah berjarak kurang lebih 2 meter. Dinamakan Multazam karena dilazimkan bagi setiap muslim untuk berdoa di tempat itu. Setiap doa dibacakan di tempat itu sangat diijabah atau dikabulkan. Maka disunahkan berdo'a sambil menempelkan tangan, dada, dan pipi ke Multazam sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Sunan Ibnu Majah dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash.


Semoga artikel ini bisa membawa manfaat, menyejukan hati dan menambah semangat kita dalam mengenal dan mencintai rumah Allah SWT (Baitullah).

Tukang Kembang

Utamana Inggit nu ngarasa leungiteun téh, kawantu pangdipikanyaahna. Geus dianggap incuna sorangan. Kabeneran ampir Saumur jeung rék sarimbag jeung incuna sorangan. Unggal di Aki mulang ke lemburna, balikna deui téh kudu baé aya oleh-oleh husus keur Inggit.
Terutama inggit yang merasa kehilangan itu, sangat disayang. Sudah dianggap cucunya sendiri. Kebetulan hampir seumuran dan mirip dengan cucunya sendiri. Setiap si Kakek pulang ke kampungnya, pulangnya lagi harus saja ada oleh-oleh khusus untuk Inggit
Saréréa. Saimah-imah. Pa Gumbira, apana inggit. Bu Gumbira, indungna. Nya kitu deui adi jeung lanceukna, Ikbal katut Jatnika, sarua ngarasa leungiteun. Ngan ku sabab raketna pisan jeung Inggit, manéhnamah leuwih-leuwih asa leungitanana téh.
Semuanya, serumah-rumah. Pak Gumbira, bapaknya inggit. Bu Gumbira ibunya inggit begitu juga dengan adik dan kakaknya, Ikbal dan Jatnika, sama merasa kehilangan. Namun karena dekatnya dengan Inggit, mereka lebih-lebih merasa kehilanga.
“Naha Si Aki téh teu aya baé?” ceuk Inggit ka mamahna, siga rék sahinghingeun ceurik.
“Kenapa Si Aki tak ada juga??” kata Inggit ke mamanya, seperti akan menangis.
“Nya éta mah. Mamah ogé meni asa beuheung sosonggeteun, sono hoyong pendak sareng Si Aki,” walerna.
“Ya itu. Mama juga tidak tahu, sudah kangen ingin bertemu dengan Si Aki,” jawabnya.
“Boa teu damang?” ceuk Jatnika.
“Takutnya sakit?” kata Jatinika.

“Panginten….,” saut Bu Gumbira deui.
“Mungkin…,” jawab bu Gumbira lagi.
“Euleuh, kumaha atuh Mah?” Inggit beuki ngarasa hariwang.
“Aduh, bagaimana Mah? Inggit terus merasa khawatir.
“Kumaha upami urang longok, sakantenan amengan ka Situ Panjalu?” Si Bungsu Ikbal usul.
“Bagaimana jika kita tengok, sekalian main ke Situ Panjalu?” Si bungsu Ikbal usul.
“Leres Pa,” Inggit jol satuju.
“Betul Pa,” Inggi langsung setuju.
Nu dimaksud Si Aki ku saréréa téh, tukang kembang langganan Bu Gumbira jeung Inggit. Tina sering balanja kembang ti Si Aki, laun-laun jadi asa jeung baraya. Mana komo sanggeus Si Aki Tukang Kembang, siga nu nyaaheun pisan ka Inggit. Malah pok deui-pok deui nyebutkeun, asa ka incu sorangan. Atuh beuki asa jeung baraya baé.
Yang dimaksud oleh Si Aki semuanya itu, Tukang kembang langganan Bu Gumbira dan Inggit. Karena sering belanja kembang dari Si Aki, lama kelamaan merasa seperti dengan saudara.
Ampir saban poé, rék dibeulian rék henteu, kudu baé ngahajakeun eureun. Basana téh hayang panggih jeung incu. Nya kitu deui Bu Gumbira, rék ngagaleuh rék henteu, kedah baé miwarang lirén. Puguh deui Inggit mah, sirikna teu ngahajakeun megat di buruan.
Hampir setiap hari, mau dibeli atau tidak, harus sengaja berhenti. Bilangnya ingin bertemu dengan cucu. Bebitu juga dengan Bu Gumbira, mau membeli mau tidak harus menyuruh berhenti. Apalagi Inggitm biasanya sengaja menunggu di halaman.
Biasana samulangna Si Aki ngrilingkeun dagangan. Da tara ka mana deui jalanna, boh inditna, boh balikna, pasti ngaliwat ka hareupeun imah Inggit.
Biasanya sepulangnnya Si Aki mengelilingkan dagangan. Tidak akan jauh jalannya, baik berangkatnya ataupun pulangnya, pasti lewak ke depan rumah Inggit.
Urang panjalu Si Aki téh. Ngaran aslina mah Abdul Manap. Ti keur ngora kénéh geus bubuara ka Bandung. Asalna tukang minyak tanah. Ditanggung maké salang jeung rancatan. Ka béh dieu ganti ngajual kembang.
Orang Panjalu Si Aki itu. Nama aslinya Abdul Manap. Semenjak muda sudah mengembara ke Bandung. Asalnya tukang minyak tanah. Ditanggung menggunakan salang dan rancatan. Ke sananya lagi gantian berjualan kembang.
Sabulan atawa dua bulan sakali sok mulang ka lemburna. Ku sabab geus teu asa jeung jiga téa, ku bu gumbira sering dibahanan oléh-oléh, bawaeun ka lemburna. Aya gula, kopi, sirop, kuéh kaléng, sakepeung pakéan urut keur babasah. Anu tara tara téh ngongkosan, lantaran keukeuh tara ditarima.
Sebulan atau dua bulan sekali suka pulang lagi ke kampungnya. Oleh karena itu, sudah tidak canggung lagi, oleh bu Gumbira sering diberi oleh-oleh, untuk dibawa ke kampungnnya. Ada gula, kopi, sirop, kueh kaleng, kadang kadang ada pakaian bekas untuk ganti. Yang tidak itu memberi ongkos, karena tetap tidak diterima.
Nya kitu deui Si Aki, unggal mulang ti lemburna, tara léngoh. Tampolanana ari keur usum panén mah, sok ngirim béas sagala. Tangtu baé lian ti oléh-oleh husus, keur incu kadeudeuh, Inggit téa. Biasana bungbuahan, manggu, sawo, pisitan, atawa kadongdong. Kumaha usum-usuman baé.
“Begitu juga dengan Si Aki, setiap pulang dari kampungnnya, pasti membawa oleh-oleh. Biasanya jika sedang musim panen, suka membawa beras segala. Tentu saja selain oleh-oleh khusus untuk cucu tersayang, Inggit saja. Biasanya buah-buahan, manggis, sawo, duku, atau kedondong. Bagaimana musim-musimnya saja.
Nu dimaksud oleh-oleh khusus keur inggit teh, sabenerna ukur babasan. Sabab dina prakna mah keur saréréa. Kawantu sakali ngirim téh pasti tara kurang ti sakarinjing gede.
Yang dimaksud oleh-oleh khusus untuk Inggit itu, sebenarnya hanya formalitas. Sebab pada praktiknya untuk semua. Biasanya sekali ngirim itu pasti tidak kurang dari sekeranjang besar.
Tapi geus dua bulan leuwih, ti saprak Si Aki bébéja rek ngalongok lemburna, tacan balik-balik deui. Tungtungna Pa Gumbira nyatujuan kana usul Si Bungsu Ikbal. Upama sabaulan deui Si Aki tetep ngampeleng, sakalian jalan-jalan, rék ngahajakeun dilongok. Kabeneran Si Aki mindeng nyaritakeun ngaran lemburna. Teu pati jauh ti kota kecamatan cenah.
Tapi sudah dua bulan lebih, dari semenjak Si Aki bilang ingin menjenguk kampungnya, belum balik-balik lagi. Akhirnya Pa Gumbira menyetyjui terhadap usulnya Si Bungsu Ikbal. Jikalau sebulan lagi Si Aki tetap tidak kembali, sekalian jalan jalan akan sengaja ditengok. Kebetulan Si Aki sering menceritakan nama kampungnya. Tidak jauh dari kota kecamatan.
“Enya upami sasih payun Si aki angger ngampleng, sakalian jalan-jalan, urang longok. Urang uah-uih baé. Ti dieu Ahad enjing-enjing, pasosonten mulih” sauh Pa Gumbira ka barudak.
“Iyah jika bulan depan Si Aki tetap tidak kembali, sekalian jalan-jalan, kita tengok. Bolak-balik saja. Dari sini minggu pagi-pagi, sore-sore pulang” kata Pak Gumbira ke anak-anak.
“Sakantenan ntobian mobil anyar deuih,” ceuk Jatnika.
“Sekalian mencoba mobil baru lagi,”
Nembe ngagaleuh mobil apan Pa Gumbira téh. Mobil tilas, sedan alit. Tapi najan tilas, henteu kolot-kolot teuing.
“Baru membeli mobil Pa Gumbira itu. Mobil bekan, sedan bekas. Namun walau bekas, tidak terlalu tua.
Naha atuh ari pitilupoéun deui kana jung, kira-kira jam hiji beurang , ujug-ujug reg aya mobil alus pisan, lirén payuneun Pa Gumbira. Harita di imah téh kakara aya Inggit jeung Ikbal, lian ti Bu Gumbira téh. Henteu kungsi lila kurunyung Jatnika. Rada jauh sakolana Jatnika mah. Sedengkeun Pa Gumbira, teu acan mulih ti kantorna. Biasana tabuh stengah lima, nembé dugi ka bumina.
Tiga hari sebelum keberangkatan, kira-kira jam saru siang, tiba-tiba berhenti sebuah mobil yang bagus, berhenti di Pa Gumbira. Aritnya di rumah itu baru ada Inggit dan Ikbal, selain dari Bu Gubira. Tak lama kemudian datanglah Jatnika. Agak jauh sekolahnya Jatnika itu. Sedangkan Pa Gumbira belum pulang dari kantornya. Biasanya setengah lima , baru sampai ke rumahnya.
Sangkaan saréréa, paling-paling bade naroskeun alamat. Pédah kabeneran keur araya di tepas. Da teu terang téa, saha jeung urang mana éta jalmi téh. Ngan pasti lain jelema sagawayah. Tina dangdanan jeung mobilna ogé katara jalma aya.
Dugaan semuanya, paling-paling juga akan menanyakan alamat. Karena kebetulan sedang ada di teras rumah. Karena tidak tahu, siapa dan orang mana orang itu. Namun pasti bukan orang sembarangan. Dari dandanan dan mobilnya saja kelihatan orang berada.
Ari pék si tatamu téh, ngahaja niat nepangan Pa Gumbira sakulawarga. Waktos diuningakeun Pa Gumbira masih kénéh aya di kantor, walerna téh, “Sawios bade diantosan baé,” cenah.
Ternyata si tamu, sengaja berniat bertemu Pa Gumbira sekeluarga. Waktu diberi tahu Pa Gumbira masih ada di kantor, jawabnya itu, “Biarkan saja nanti ditunggu saja katanya.
Atuh Bu Gumbita téh kacida bingungna. Margi kana waktosna Pa Gumbira mulih téh masih kénéh lami. Beui bingung lantara si tamu ngaléos, ninggalkeun pribumi. Tuluy rurusuhan muru mobil sarta mukakeun panto Beulah tukang.
Bu Gumbira  sangatlah bingung. Karena waktunya Pa Gumbira pulang itu masih lama. Semakin bingung karena si tamu pergi, meninggalkan tuan rumah. Lalu buru-buru menuju ke mobil dan membuka pintu sebelah belakang.
Asalna saréréa bingung campur atoh, barang ti jero mobil kaluar Si Aki. Bajuna henteu saperti keur dagang kembang. Ayeunamah beresih jeung alus. Nya kitu deuih kulitna. Henteu hideung saperti saméméhna.
Pada mulanya semuanya bingung bercampur gembira, ketika dari dalam mobil keluas Si Aki. Bajunya tidak seperti sedang dagang kembang. Sekarang beresih dan bagus. Begitu juga dengan kulitnya. Tidak seperti sebelumnya.
“Aki…..!” cenah” Inggit lumpat muru Si Aki. Gabrug duanana silih rangkul.
“Aki….! katanya” Inggit berlari menuju Si Kakek. Keduanya saling merangkul.
Geus karuhan kitu mah, Pa Gumbira teras diwartosan aya Si Aki.
Sudah tentu begitu, Pa Gumbira lalu diberitahu ada Si Aki.
Saha saleresna si tatamu téh? Singhoréng  putra Si Aki pangageungna. Anu majar salah saurang putra Si Aki pangageungna. Anu majar salahsaurang putrana, ampir sarimbag jeung Inggit. Ari pangna ngahaja nepangan, lian ti ngawartosan Si Aki téh moal dagang  kembang deui. Margi diwagel ku putra-putrana.
Siapa sebenarnya tamu tersebut? Ternyata anaknya Si Kakek yang paling besar. Yang katanya salah seorang anak Si Aki paling besar. Yang katanya salah seorang anaknya, hampir sewajah dengan Iggit. Sebab sengaja bertemu, selain dari memberitahu Si Aki tidak dagang lagi. Karena dilarang oleh anak-anaknya.
Tapi sakali-kalieun, pasti nganjang ka bumi Pa Gumbira. Utamana upama sono ka Inggit. Nya kitu deuih, Pa Gumbira sakulawargi, kedah sering ngalongok Si Aki di lembur.
Tapi sekali-kali, pasti berkunjung ke rumah Pa Gumbira. Utamanya jika kangen kepada Inggit. Begitu juga dengan Pa Gumbira sekeluarga, harus sering menengok Si Aki di kampung.
Teu sangka nya, Si Aki tukang nyunyurung roda kembang téh, putra-putrana maraju. Di antarana nu natamu ka Pa Gumbira. Kagungan pabrik beusi sagala, cenah, anjeunna téh.
Tidak sangka yah, Si Aki tukang mendorong roda kembang itu, anak-anaknya maju. Di antaranya yang bertamu ke Pak Gumbira. Punya pabrik besi segala katanya, dia itu.

saung katineung

Saban poé minggu mah, réngsé solat subuh téh sok langsung morongkol deui. Béda minggu ayeuna mah, isuk-isuk gé geus leuleumpangan. Méméh balik ka imah, ngahaja nyimpang heula di kebon jagong ki Oleh. Geuning geus leubeut. Geus pada apal kabéh urang dieu mah, mun hayang jagong di kebon ieu kudu daék heula tarung panco jeung Ki Oleh, nu bogana. Teu jauh tidinya, maplak tatangkalan endah diharudum ibun.

Ka belah kulon, teuteup eunteup di saung laeutik sisi sawah Haji Nono. Matak nineung matak waas. Kleung angkleung ingetan ngahaleuang ka mangsa keur leutik sok ulin bareng Dedi, Kokom jeung Lilis di saung éta. Gogonjakan, ngoyag-ngoyag tali bebegig. Manuk hariber. Jiga ayeuna, manuk silih udag. Panon poé geus ngeteyep rék nembongan. Kuring ngarénghap panjang. Teu karasa, Gusti, geus jauh ngulur umur, geus moal bisa dieureun-eureun atawa mulut nu geus liwat.
Balik ka imah, brus kuring mandi di sumur tukangeun imah. Mun pareng genah gegejeburan, sok poho batur nu ngantay rék milu ka cai. Geus rényom kadéngéna. Si bibi rék nyeuseuh mah, ki Momo rék miceun mah, Nyi Mimin rék ngisikan mah, jeung nu séjénna. Atuh réngsé mandi téh kabéh pada ngékéak. Puguhing ki Momo mah, teu weléh bari nyindir.
“Abong lila bubujangan, mandi gé lila. Iraha kawin, Jang?” pokna bari seuri ngahahah. Geus remen nu nanya kitu téh, tapi sok tara dilayanan. Bubuhan kakeuheul geus manteng. Mun seug ki Momo lain kolot, geus titatadi ditalian di tangakal balingbing pipir imah. Katempo manéhna ngaleos, sengit haseup bakona néjéh liang irung.
Dijero kamar kuring ngarahuh. Panon anteng melong eunteung. Geuning nyaan katempo pisan geus kuduna mungkas lalagasan. Umur sakieu di lembur mah moal teu pada nganaha-naha can boga pamajikan téh. Tapi da nepika ayeuna, mumul kawin téh. Lain teu payu, geus aya nu harayangeun mah. Mumun mah, randa Isah mah, Téh Ninih mah, Kokom mah, Lilis mah, Dedeh mah. Kabéh gé saropan tur gareulis manis. Nya kitu téa, kuring resep kénéh léléngohan. Lain sieun, lain teu boga biaya. Puguh wé gawé mah geus kawilang lumayan. Tabungan di bank geus meujeuhna keur rumah tangga mah. Kumaha deui, haté embung baé méréan. Teu bisa dipaksa-paksa.
Kadieunakeun, geus tara aya deui nu nganaha-naha, iwal ki Momo wé nu bangor kénéh ngaheureuyan kuring sual kawin mah. Kitu deui nu di imah, geus sieun mun nanyakeun sual kawin téh. Éta gé tisaprak kuring mudalkeun kaambek kanu di imah lantaran hayoh ditanya iraha kawin. Murang-maring sagala disépak. Adat kuring gedé ambek. Tisaprak kajadian éta, urang imah teu wani-wani deui nyeungeut amarah kuring. Sensitip ngomong sual kawin mah.
Awéwé-awéwé nu mimitina ngadeukeutan kuring ge ayeuna mah geus tara datang ka imah deui. Kabéh geus ngarasa bosen nungguan kuring. Béja mah Mumun can lila kawin jeung Kang Dadang, urang Majaléngka. Randa Isah teu kuat hayang rumah tangga, antukna kawin jeung mandor pabrik. Téh Ninih béjana keur deukeut jeung urang Padang. Lilis geus tara deui ulin ka imah, bejana Dedi mikahayang. Kokom geus pindah ka Palémbang. Dedeh béjana kapincut deui ku lalaki séjén. Kabéh gé lus-les pada néang jalan séwang-séwang, bakating ku cangkeul nungguan jeung miharep kuring meureun. Ki Dudus mah ngahanjakalkeun kana lalampahan kuring. Cenah mah awéwé geus dina lawang panto, kari unggeuk. Nya ayeuna mah kabéh pada bedo kudu lila nungguan kuring unggeuk daék tumarima rumah tangga. Jadi iraha rék kawin? Teuing atuh!
“Man! Geus siap, Man?!” kadéngé aya nu ngageroan di luar imah, meupeus lamunan kuring. Rikat kuring maké baju. Inget poé ayeuna Ki Dudus hayang dianteur ka Jatinangor, ngadon rék neangan cokelat di Jatos. Kateuing keur naon! Keur nini Mimih meureun.
***
Dina angkot kuring amprok jeung Darmaji, babaturan és ém pé. Atuh sono geus lila teu tepung. Nya sajajalan téh ngawangkong. Manéhna geus boga budak hiji. Cenah kawin jeun urang Rancakalong, urut babaturan sakelas pisan. Enya, jeung Ida. Kuring inget kénéh ka manéhna.
“Man, kamari pisan panggih jeung Dedi. Jadi ogé nya rék kawin. Jodona mah geuning jeung Kokom nya…” Ceuk Darmaji. Kuring ngaranjug. Jeung Kokom?
“Béja mah rék ka Lilis?” kuring kerung. Darmaji malik kerung.
“Har, karék apal ilaing? Atawa api-api teu apal?” Darmaji mingkin heran
“Keur naon kuring api-api teu apal. Apanan Dedi gé geus lila tara ulin deui ka imah.” Témbal kuring. Darmaji katangen gogodeg. Manéhna lila neuteup kuring.
“Lilis teu nyarita?”
“Nyarita nanahaon, Lilis gé ayeuna mah tara ulin deui ka imah. Sugan téh geus kawin jeung Dedi di Bandung.” Tembal kuring. Jempé sakeudeung.
“Man, Ceuk Dedi mah manéhna téh mikahayang Lilis, tapi Lilis nampik. Nya ayeuna jadina mah jeung Kokom. Milu hiber rumah tangga di Palembang. Beu, ilaing babaturan ulin keur leutik Dedi malah teu apal..” Darmaji ngajéntrékeun. Kuring ngahuleng.
“Ilaing nyaho kunanon Lilis nampik Dedi?” Darmaji nanya.
“Naon?”
“Ceuk Dedi mah Lilis miharep rumah tangga jeung ilaing. Lilis sorangan nu balaka ka Dedi, yén manéhna rék satia nungguan ilaing. Beu ilaing bet téga mihukum Lilis. Malahan ceuk beja kamari-kamari indungna geuring parna, mikiran budakna can kawin-kawin…”
Leng pikiran asa rinyay ngadéngéna, nyéah kana jero dada. Di Cikuda Dedi turun. Baku poé minggu mah di jalan téh sok macét. Pangpangna mah di Jatinangor, paciweuh ku nu lalar liwat rék ulin ka pasar mingguan di Unpad. Panon poé geus karasa panas. Hawa beuki bayeungyang. Pikiran jeung haté noroweco teu pupuguh. Baruk Lilis nungguan kuring?
Sajeroning macét, supir ngarti. Manéhna nyetel kasét dina tip mobil. Kadéngé haleuang tembang sunda. Ari ti mimiti naék ki Dudus mah teu ngawangkong saeutik-eutik acan, jiga nu nyeri huntu. Nya ngadéngé tembang téh jadi aya dédéngéeun dina kaayaan macét mah. Rey karasa aya nu ngeleketey dina lelembutan. Deng tembang marengan panineungan nu teu karasa kumalayang. Haleuang tembang karasa kana puhu kalbu…
asih urang…
diapungkeun ka langit
muntang kana mega
ucang-angge duaan…
asih hurang…
dipentangkeun ka langit
manteng dina bulan
ayang-ayangan duaan…
asih urang…
tingkaretip jiga bentang1
…..
Ser haté nu simpé dumadak haneut ngadéngéna. Tembang bieu lir ungkara basa nu ngusapan mapay-mapay garingna rasa. Tembangna nyaritakeun wanoja nu keur geugeut panineungan ku rasa cinta. Kumalayang haté sajongjonan. Ngarasa bagja teu pupuguh, ngarasa ngemplong pikir, tapi sakapeung hariwang teu puguh. Kuring ngarérét ka ki Dudus nu titatadi teu usik-usik. Bet haté sakapeung ngarasa keueung. Enya, Dedi gé ditampik bubuhan Lilis hayang satia nungguan kuring. Teuing geus sabaraha taun. Tapi naha Lilis tara ulin ka imah deui? Teu kungsi lila, kadéngé deui tembang anyar tina tip…
…..
hate ngarasa geugeut
hayang geura geura deukeut
rasa liwung gandrung
diri kapidangdung
semu ngalanglayung
hayang geura geura tepung
sawangan kumalayang ngawang-ngawang
nyipta rasa tinu anggang jeung manehna
implengan gumalindeng anteng mayeng
namperkeun rasa katineung kadirina
harepan geus jadi ampihan rasa
moal laas najan anggang jeung manehna2
…..
Bener kitu Lilis masih kénéh kangen ka kuring? Bener kitu manéhna teu pundung kawas nu lian? Bener ceuk Darmaji, kuring téga nganyeunyeuri manéhna. Sok jadi hanjakal geus kasar ka Lilis. Kuring nu kungsi kasar ka manéhna. Kuring nu kungsi nyentak manéhna. Babakuna teu ditari teu ditakon unggal manéhna nganjang ka imah. Geuning Lilis mah tetep satia, tetep miharep. Teu karasa tembang dina kasét ganti deui…

…..
dina lambaran katrésna
aya ringkang can kasorang
diri kapidangdung
dipapareng kuciptaan
liuh gumulung kahéman
mugia nyorang kabancang
sumerahna ieu diri
tumarima demi cinta
najan diri kudu nandangan tunggara
najan ukur saliwatan
najan ukur sakedapan
abdi pasrah moal robah pamadegan…3
…..

Duh ibarat kitu Lilis nungguan kuring téh. Palangsiang, boa manéhna tara ka imah deui téh sieun ku kuring, tisaprak kuring ngamuk sual kawin, kabeneran manéhna harita keur aya di imah kuring. Jigana Lilis nyeri haté. Jigana Lilis éra. Jigana ayeuna gé Lilis tara manggihan indung kuring ka imah téh lantaran sieun kuring nyangka nu lian-lian. Padahal Lilis mah tibaheula gé baku sok ngadon nganteuran ka indung kuring mawa sarupaning buah-buahan. Lilis nu éstuning nyaah ka indung kuring nu geus kolot…
Tapi ayeuna mah Lilis geus jiga nu sieun datang ka imah gé. Nu di imah gé geus tara ngomong-ngomong sual Lilis. Kabéh sieun ku ambek kuring. Indung sorangan gé geus tara nyabit-nyabit sual kawin, sual Lilis. Haleuang tembang teu eureun-eureun minuhan pikir kuring, ngusapan haté kuring.
“Kang, tos dugi Cileunyi. Aéh kalahka ngaharuleng” supir nakol kaca panto meupeus lamunan. Kuring jeung ki Dudus ngarénjag reuwas. Tuluy silih pelong. Geuning sarua jeung kuring, sihoréng simanahoreng ki Dudus gé titatadi anteng ngalamun, poho rék eureun di Jatinangor mah.
“Eta geura genah ngarasa dipépéndé kawih sunda sajajalan. Sedih jeung bungah karasana panineungan…” ki Dudus gagaro sirah nu teu ateul.
“Sarua, Ki…”
“Pir! Milu deui muter ka Tanjungsari. Tapi tong dipareman tipna!” ki Dudus ngacung.
***
Sajajalan kasét digeder, béak diputer deui, béak diputer deui. Teu eureun-eureun. Atuh kuring gé nepika apal. Kuring jeung ki Dudus mupakat balik deui ka Tanjungsari ngabélaan hayang tuluy ngadangukeun tembang. Meuli cokelat ka Jatos mah teu jadi. Sapanjang balik mah euweuh nu cacarita. Simpé. Ukur sora mesin mobil. Ukur haleuang tembang. Duh, sajeroning dipépénde tembang, ingetan manteng ka Lilis. Tibaheula manéhna nungguan kuring.
Teu karasa balikeunna mah gancang, geus tepi deui ka Tanjungsari. Can ge lila turun tina mobil, supir ngagorowok, “Kang, kaset pajeujeut!”
Ki Dudus ngadadak hayang buru-buru balik. Inget ka si Nini cenah. Antukna kuring leumpang sorangan. Sajajalan pikiran ngarasa sasab ka awang-awang, asa teu manggih arah. Haté norowéco ngarasa diturih wanci nu can pasti. Di tengah sawah manuk silih udag. Kuring leumpang luhur galengan, dumadak ngarasa hariwang ku hirup…
Di imah, kabéh keur kumpul. Kaayaan tengah imah jiga nu geus kaanjogan sémah. Aya bubuahan dipiringan deukeut panto.
“Aya sémah, Mah?” kuring nanya bari muka jaket. Jempé sakeudeung.
“Enya, aya Lilis. Bieu pisan mulang.” Tembal indung. Kuring neuteup ki Momo, ret ka adi. Si bibi ngaléos ka dapur. Aéh aya naon asa beda ti sasari. Kuring diuk ngahuleng sajongjonan deukeut jandéla kamar. Duh, Lilis nganjang deui…Karasa haté nitah cengkat ngudag Lilis nu jigana can mulang jauh. Kuring ngarawél jakét rék kaluar.
“Rék kamana deui, A?” indung nanya. Kuring neuteup panon indung.
“Rék manggihan Lilis…” Pok téh halon.
“Mun sakirana rék nganyeunyeuri manéhna jiga baheula, leuwih alus tong manggihan.” Ceuk indung kuring semu beurat. Katémbong panon indung ngembeng ku cipanon. Haté kuring ngdadak héab. Simpé sajongjonan. Sakur jelema nu aya didinya neuteup seukeut ka kuring. Rénghap kuring karasa heureut. Gancang kuring kaluar, gidig leumpang gagancangan…
Sajajalan dada karasa beurat. Hawar kadéngé deui tembang nu tadi dina mobil, piligenti nyiwitan ati…

lamun enya jodona
lamun enya kuduna
moal rék aya nu bisa misahkeunnana…
lamun enya cintana
lamun enya hayangna
ulah rek aya nu nyoba misahkeunnana…4
Katémbong tikajauhan Lilis rék balik meuntas sasak. Leumpang kuring digancangan. Mingkin deukuet, dada karasa mingkin heureut. Tilu lengkah ka Lilis kuring ngarandeg.
“Lilis…”
Lilis ngalieuk, semu reuwas amprok jeung kuring. Sakeudeung silih teuteup anteub. Lilis ngeluk tungkul, jiga nu teu wasa paadu teuteup jeung kuring. Kuring ngadeukeutan manéhna. Gap teu asa-asa nyekel leungeun Lilis. Kuring teu nyaho naon nu ngalamuk dina haté Lilis ayeuna. Kuring nungtun manéhna mapay galengan muru saung. Sajajalan nu kadangu ukur sora manuk. Gék kuring duaan dariuk di saung jiga baheula keur leutik. Nya di saung eta pisan, Lilis babarengan deui jeung kuring. Lila paheneng-heneng. Duaan pabetem-betem. Kuring ujug-ujug bingung rék ngomong naon. Lilis tanggah lalaunan, neuteup ka kuring sakedapan. Duh, Lis, geus lila teu tepung. Angin karasa humaliwir. Kuring jeung Lilis silih teuteup. Teu karasa haté ngangkat leungeun sorangan ngaranggeum leungeun Lilis.
“Lis, hapunten Akang, “ pok téh,” Tong jadi pundung. Haté mah teu bisa dibobodo gening. Kuring teh gening teu bisa hirup sorangan…” ceuk kuring halon. Lilis neuteup panon kuring. Duh, bulu panonna mingkin carentik baé. Lilis nu manis, kuat nandangan tunggara satia nungguan haté kuring léah tumarima. Kuring ujug-ujug ngarasa deudeuh jeung geugeut ka Lilis. Katémbong aya nu ngeyembeng lebah kongkolak panonna.
“Lilis bakal satia salawasna…” pokna. Teu kungsi lila manéhna ceurik. Cipanonna nyakclak kana leungeun kuring. Haneut. Teu karasa Lilis nyangsaya kana dada. Cipanonna beueus karasa dina dada kuring.
“Horeeee!!!” kadéngé aya sora nu kareprok tukangeun saung. Kuring jeung Lilis ngarénjag bareng. Reuwas naker. Katémbong ki Momo jeung ki Dudus saparakanca tingtorojol muru saung. Nyi Mimin, adi, si bibi jeung indung kuring nuturkeun ti tukang, sareuri jiga nu bungah. Ki Oleh ajarg-ajragan atoh. Kuring jeung Lilis silih pelong, tuluy Lilis imut ngagelenyu.
“Man, ilaing jadi rék kawin jeung Lilis téh?” ki Momo nanya saklek jiga nanya ka maling. Kuring neuteup Lilis sakeudeung. Lilis imut surti. Kuring unggeuk. Sakur nu aya didinya kabéh keprok deui. Ki Oleh ajrag-ajragan. Indung kuring ngagabruk Lilis jeung kuring bari ngagukguk ceurik, bakating ku bungah. Indung kuring nangtung bari nyusutan cipanon. Teu eureun-eureun syukur ka Gusti. Duh, gening salila ieu téh kuring lain nganyeuneyuri Lilis hungkul, tapi nganyeunyeuri indung, ngariripuh diri sorangan…
Kuring jeung Lilis silih teuteup geugeut. Barang rék nangkeup pisan Lilis, ki Oleh nyekelan taktak kuring.
“Eit, ke heula! Méméh nangkeup Lilis, ilaing kudu panco heula jeung kuring!” ceuk ki Oleh.
“Emang Lilis jagong!” ceuk ki Momo némpas.
“Ilaing mah Oleh baku sok maén sengsor waé!” ceuk ki Dudus nyereng. Kabéh nu aya didinya seuri akey-akeyan ngadéngé aki-aki silih haok. Lilis tungkul bari imut manis. Saung jadi saksina. Duh, Lis, kakara nyadar Akang mah, raray anjeun mun pareng kaisinan estuning katingalna mani geulis…

Syarat, Rukun dan Wajib Haji


Syarat, Rukun dan Wajib Haji

A. Syarat Wajib Haji

Syarat wajib haji adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang sehingga dia diwajibkan untuk melaksanakan haji, dan barang siapa yang tidak memenuhi salah satu dari syarat-syarat tersebut, maka dia belum wajib menunaikan haji. Adapun syarat wajib haji adalah sebagai berikut :

1. Islam
2. Berakal
3. Baligh
4. Merdeka
5. Mampu

B. Rukun Haji

Yang dimaksud rukun haji adalah kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji, dan jika tidak dikerjakan hajinya tidak sah. Adapun rukun haji adalah sebagai berikut :

1. Ihram
Ihram, yaitu pernyataan mulai mengerjakan ibadah haji atau umroh dengan memakai pakaian ihram disertai niat haji atau umroh di miqat.

2. Wukuf
Wukuf di Arafah, yaitu berdiam diri, dzikir dan berdo'a di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah.

3. Tawaf Ifadah
Tawaf Ifadah, yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, dilakukan sesudah melontar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijah.

4. Sa'i
Sa'i, yaitu berjalan atau berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak 7 Kali, dilakukan sesudah Tawaf Ifadah.

5. Tahallul
Tahallul, yaitu bercukur atau menggunting rambut setelah melaksanakan Sa'i.


6. Tertib
Tertib, yaitu mengerjakan kegiatan sesuai dengan urutan dan tidak ada yang tertinggal.

C. Wajib Haji

Wajib Haji adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji sebagai pelengkap Rukun Haji, jika salah satu dari wajib haji ini ditinggalkan, maka hajinya tetap sah, namun harus membayar dam (denda). Yang termasuk wajib haji adalah :

1. Niat Ihram, untuk haji atau umrah dari Miqat Makani, dilakukan setelah berpakaian ihram.

2. Mabit (bermalam) di Muzdalifah, pada tanggal 9 Zulhijah (dalam perjalanan dari Arafah ke Mina).

3. Melontar Jumrah Aqabah, pada tanggal 10 Zulhijah yaitu dengan cara melontarkan tujuh butir kerikil berturut-turut dengan mengangkat tangan pada setiap melempar kerikil sambil berucap, “Allahu Akbar, Allahummaj ‘alhu hajjan mabruran wa zanban magfura(n)”. Setiap kerikil harus mengenai ke dalam jumrah jurang besar tempat jumrah.

4. Mabit di Mina, pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah).

5. Melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah, pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah).

6. Tawaf Wada', yaitu melakukan tawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Mekah.

7. Meninggalkan perbuatan yang dilarang saat ihram.

SYARAT WAJIB HAJI

SYARAT WAJIB HAJI

Syarat wajib haji adalah sifat-sifat yang harus dipenuhi oleh seseorang sehingga dia diwajibkan untuk melaksanakan haji, dan barang siapa yang tidak memenuhi salah satu dari syarat-syarat tersebut, maka dia belum wajib menunaikan haji. Syarat-syarat tersebut ada lima perkara:
  1. Islam
  2. Berakal
  3. Baligh
  4. Merdeka
  5. Mampu
Ibnu Qudamah (dalam Al-Mughni 3/218 adn Nihayah Al-Muhtaj 2/375) berkata: “Kami tidak melihat adanya perbedaan pendapat mengenai lima perkara tersebut“.
Islam” dan “Berakal” adalah dua syarat sahnya Haji, karena haji tidak sah jika dilakukan oleh orang kafir atau orang gila.
Baligh” dan “Merdeka” merupakan syarat yang dapat mencukupi pelaksanaan kewajiban tersebut, tetapi keduanya tidak termasuk syarat sahnya haji. Karena apabila anak kecil dan seorang budak melaksanakan haji, maka haji keduanya tetap sah sesuai dengan hadits dari seorang wanita yang -pada saat melaksanakan haji bersama Rasulullah shallallahu alayhi wasalam- mengangkat anak kecilnya kehadapan Nabi dan berkata: “Apakah ia mendapatkan (pahala) haji ?” beliau shallallahu alayhi wasalam menjawab: “Ya, dan kamu pun mendapatkan pahala“(Shahih HR Muslim 1336, Abu Dawud 1736, dan an-Nasa’i 5/120).
Akan tetapi haji yang dilakukan oleh anak kecil dan budak tidak menggugurkan kewajiban hajinya sebagai seorang Muslim, menurut pendapat yang lebih kuat, berdasarkan hadits:
Barang siapa (seorang budak) melaksanakan haji, kemudian ia dimerdekakan, maka ia berkewajiban untuk melaksanakan haji lagi, barang siapa yang melaksanakan haji pada usia anak-anak, kemudian mencapai usia baligh, maka ia wajib melaksanakan haji lagi“(Dishahihkan oleh Al-Albani HR Ibnu Khuzaimah 3050, Al-Hakim 1/481, Al-Baihaqi 5/179 dan lihat Al-Irwa’ 4/59).
Adapun “Mampu” hanya merupakan syarat wajib haji. Apabila seorang yang “tidak mampu” berusaha keras dan menghadapi berbagai kesulitan hingga dapat menunaikan haji, maka hajinya dianggap sah dan mencukupi. Hal ini seperti shalat dan puasa yang dilakukan oleh orang yang kewajiban tersebut telah gugur darinya. Maka shalat dan puasanya tetap sah dan mencukupi. (Al-Mughni 3/214).

APAKAH YANG DIMAKSUD “MAMPU

Kemampuan” yang menjadi syarat wajib haji hanya akan terwujud dengan hal-hal berikut:
1. Kondisi badan yang sehat dan bebas dari berbagai penyakit yang dapat menghalanginya dalam melaksanakan berbagai macam ritual dalam haji. Sesuai hadits Ibnu Abbas, bahwa seorang wanita dari Khats’am berkata: “Wahai Rasulullah, bapak ku memiliki kewajiban haji pada saat dia sudah sangat tua dan tidak dapt menanggung beban perjalanan haji, apakah aku bisa menghajikannya ?” beliau shallallahu alayhi wasalam menjawab: “Tunaikanlah haji untuknya (menggantikannya)“(Shahih HR Bukhari 1855 dan Muslim 1334).
Barangsiapa telah memenuhi seluruh syarat haji, tetapi dia menderita penyakit kronis atau lumpuh, maka dia tidak wajib melaksanakan haji, sesuai kesepakatan ulama.
hanya saja ada perbedaan pendapat mengenai perwakilannya kepada orang lain, apakah wajib atau tidak ?.
Madzhab Syafi’i, Hanbali dan dua orang pengikut madzhab Hanafi berpendapat wajib, atas dasar bahwa kesehatan badan merupakan syarat untuk menunaikan haji dan bukan syarat wajib haji. Dan inilah pendapat yang terkuat berdasarkan hadits Ibnu Abbas, bahwa Nabi shallallahu alayhi wasalam bersabda: “Bagaimana jika ayahmu memiliki tanggungan utang, apakah kamu akan melunasinya ?” Wanita itu menjawab “Ya” beliau shallallahu alayhi wasalam lalu bersabda “Maka utang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi” (HR Bukhari 5699, An-Nasa’i 5/116).
Adapun Imam Abu Hanifah danImam Malik berpendapat tidak wajib mewakilkannya kepada orang lain. (Nihayah Al-Muhtaj 2/385, Al-Kafi 1/214 dan fath al-Qadir 2/125).
2. Memiliki perbekalan yang cukup dalam perjalana, masa mukim (menginap) dan saat kembali kepada keluarganya, diluar kebutuhan-kebutuhan pokok, seperti tanggungan utang dan nafkah untuk keluarga dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya. Ini menurut pendapat Jumhur Ulama (Al-Majmu’ 7/56) -selain madzhab Maliki-, karena nafkah merupakan hak manusia dan harus diutamakan, sesuai sabda Rasulullah shallallahu alayhi wasalam:
Cukuplah seseorang (dianggap) berdosa dengan menelantarkan orang yang berada dalam tanggungannya“(Shahih HR Abu Dawud 1676 dan Al-Irwa’ 989).
3. Amannya perjalanan. Ini meliputi aman bagi jiwa dan harta pada saat orang-orang ramai keluar menunaikan haji, karena kategori “mampu” tidak dapat terlepas dari kondisi ini.

KEBERADAAN SEORANG MUHRIM MERUPAKAN SYARAT WAJIB HAJI BAGI PEREMPUAN.

Wanita diwajibkan menunaikan haji apabila telah memenuhi lima syarat yang telah dijelaskan kemudian disyaratkan pula agar ditemani oleh suami atau muhrim. Apabila tidak ada muhrim maka dia belum diwajibkan haji.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radiallahuanhu, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu alayhi wasalam bersabda: “Hendaknya seorang laki-laki tidak berdua-duaan dengan seorang perempuan, kecuali bersama muhrimnya, dan hendaknya seorang wanita tidak berpergian kecuali bersama muhrimnya.” Kemudian seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, istriku hendak pergi haji untuk melaksanakan haji dan aku mendapat bagian untuk ikut perang ini dan ini” Maka beliau shallallahu alayhi wasalam bersabda “Pergilah, laksanakan haji bersama istrimu“(Al-Mughni 3/230, Bidayah Al-Mujtahid 1/348 dan Al-Majmu’ 7/68). Ini adalah pendpat madzhab Hanafi dan Hanbali.
Adapun madzhab Maliki dan Syafi’i menilai bahwa keberadaan muhrim bukanlah syarat dalam haji, tetapi mereka mensyaratkan amannya perjalanan dan adanya teman yang amanah. Ketentuan ini berlaku dalam haji yang wajib. Adapun haji sunnah maka perempuan tidak boleh melaksanakannya kecuali bersama muhrimnya, sesuai kesepakatan para ulama.
Sementara madzhab Azh-Zhahiri berpendapat bahwa wanita yang tidak memiliki suami atau muhrim atau suaminya enggan menemani maka dia boleh menunaikan haji tanpa muhrim.
Mereka berdalil dengan riwayat yang menjelaskan penafsiran Nabi shallallahu alayhi wasalam bahwa yang dimasud dengan “mampu” adalah adanya perbekalan dan kendaraan, dan riwayat ini dha’if, sebagaimana yang telah disebutkan.
Juga dengan sabda beliau:”Hampir saja akan keluar sekelompok perempuan dari Hirah menuju Ka’bah tanpa ada yang menemaninya (tanpa muhrim), mereak tidak merasa takut melainkan hanya kepada Allah” (HR Bukhari 3595, kata Azha’inah berarti perempuan)
Hal ini dijawab bahwa riwayat tersebut merupakan pemberitahuan tentang keamanan yang akan terjadi, dan tidak berkaitan dengan hukum berpergian bagi perempuan tanpa muhrim.

BAGAIMANA HUKUM PEREMPUAN YANG MELAKSANAKAN HAJI TANPA MUHRIM ?

Apabila seorang perempuan melaksanakan haji tanpa muhrim, maka hajinya tetap sah dan dia berdosa lantaran berpergian tanpa muhrim.

SEORANG PEREMPUAN BOLEH MEMINTA IZIN SUAMINYA UNTUK MENUNAIKAN HAJI, DAN SUAMI TIDAK BERHAK MELARANGNYA. (Al Mughni 3/240, Al Umm2/117)

1. Apabila seorang wanita telah memenuhi syarat-syarat wajib haji sebagaimana yang telah dijelaskan diatas -dalam pelaksanaan haji yang wajib- maka dianjurkan untuk meminta izin kepada suaminya untuk melaksanakannya. Apabila suami tidak meng-izinkan, maka dia boleh tetap pergi haji tanpa seizin suaminya, karean suami tidak berhak melarangnya untuk menunaikan kewajiban hajinya -menurut mayoritas ulama- karena hak suami tidak lebih diutamakan daripad kewajiban individual (fardhu ain) seperti puasa Ramadhan dan lainnya.
2. Apabila ibadah haji yang dijalankannya adalah haji nadzar, dan nadzarnya tersebut seizin suaminya atau dia bernadzar sebelum menikah kemudian memberitahu suami dan suami menyepakatinya, maka suami tidak berhak melarangnya. Adapun jika nadzarnya tidak disetujui oleh suami, maka suami boleh mencegahnya. Tetapi ada pendapat yang mengatakan bahwa suami tidak berhak melarangnya karena haji yang akan dilaksanakannya adalah haji wajib, seperti halnya haji wajib sebagai seorang muslim dan menjadi salah satu rukun Islam.
3. Apabila yang dia lakukan adalah haji sunnah atau menggantikan haji orang lain, maka harus seizin suaminya, dan suami memiliki hak untuk melarangnya, sesuai kesepakatan para ulama.

Apakah Wanita Yang Sedang Menjalani Masa Iddah Boleh Melaksanakan Haji ?

Wawnita yang sedang menjalani masa iddah sesudah cerai atau setelah ditinggal mati oleh suaminya pada bulan-bulan haji, tidak wajib melaksanakan haji, menurut pendapat mayoritas pendapat ulama, karena Allah melarang wanita yang sedangmenjalani masa iddah untuk keluar, berdasarkan firma-Nya
Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar…” (QS Ath-Thalaq:1).
Selain itu haji juga dapat dilaksanakan pada lain waktu. Adapun iddah adalah keharusan yang telah ditentukan waktunya. Dengan demikian menggabungkan dua perkara tersebut adalah lebih utama.

SILANG SIGEU

SILANG SIGEU
Ku : Mamat Sasmita



2003
Poe Minggu ngajak ulin budak ka toko buku, dumeh budak teh ti kamari ngaeh bae hayang buku catetan nu leutik nu kelirna kayas, teuing keur naon, da ditanya teh ukur nyebut keur catetan, atuh ku kuring diayunkeun kahayangna sakalian kuring ge rek neangan buku sejena.
Budak teh jigrah pisan, atuh basa di toko buku budak teh taralang tereleng kaditu kadieu kuring we nu rada kawalahan kudu nutur-nutur jeung mukaan buku bukuna anu ditunjuk, geuning behna mah lain ngan sakadar neangan buku catetan , tapi kalah neangan buku buku bacaan sejena, padahal mah macana ge can pati lancar.
Keur anteng ningalian buku buku, digigireun aya nu ngajanteng, awewe tengah tuwuh, ceuk rarasaan eta awewe teh ret deui ret deui ka palebah kuring, teuing ngahaja ningali ka kuring teuing ngan ukur rarasaan wungkul.
Teu kungsi lila aya nu nepak kana taktak…” Silang…?!”
Sajongjongan kuring ukur ngabigeu, bari panon mah mureleng ka eta awewe nu nepak kana taktak.
Dina hate nginget nginget deui kecap Silang, teu karasa kuring nembalan ..” Sigeu…?”.
Manehna seuri terus ngasongkeun leungeun,…kuring kumejot dina hate mah hayang ngagabrug manehna, tapi asa teu werat lamun kudu kitu teh, atuh kapan manehna teh awewe jeung apan aya ditempat anu rame, jeung ongkoh deuih aya budak nu keur colohok ningali ka kuring.
Enya disebut tengah tuwuh teh asa merenah pisan, buukna geus culcel huis, tapi dangdananana mah matak hookeun keur awewe saumurna mah, geura we buuk sok sanajan geus culcel huis tapi ari modena mah kaayeunakeun, enya ari make cindung mah tapi da ieu mah lain jilbab, ngan saukur disampaykeun, malah mimindengna mah eta cindungna teh nyampay we dina taktak, bajuna gombrang, make pantalon, kewes asa ningali dangdanan Indira Gandhi.
Sasalaman teh rada lila jeung terus silih keukeuweuk, …”Keur naon didieu…?” ceuk manehna, kuring seuri bari ngajawab..” Nya neangan buku atuh ma enya neangan emih kocok didieu…”, manehna nyeuleukeuteuk, enya can poho kuring ge kabeukina kana emih kocok.
“Jeung saha..?!”..ceuk manehna deui.
“Jeung budak….!”
“Incu ieu teh….?”
Kuring teu pati ngawaro kana pananyana, kalah hayoh nitah budak supaya nyolongkrong munjungan “…Tuh salim heula ka Ua..”
“Nu bungsu ieu teh,…boga sabaraha budak teh,..mana indungna..!”
“Indungna mah di imah we, da tadi diajak teh mugen, majarkeun loba seuseuheun..!”
Kuring jeung manehna uplek ngobrol bari nutur nutur bujur budak milihan buku.
Beres babayar, kuring, budak jeung manehna, kaluar ti toko buku, enyaan manehna ngajak nyimpang ka tempat dahar anu ngajual emih kocok.
“ Can robah kabeuki teh..!?” ceuk kuring..
Manehna ukur mesem.
Kuring rarat reret ningalian kana balanjaan manehna…”Meuli buku naon tadi..?”
“Teu meuli buku uing mah, meuli ieu we cet minyak…!”
“Euh…geuning jadi pelukis..?”
Manehna seuri ngaheuheu, “Lain,…ieu mah pesenan incu..!”
Resep ningali manehna ngadahar emih kocok anu cikruh nyuruputna atuh teu kaliwat seuhahna.
“Na geus boga sabaraha incu teh..?”
“Geus gede,…geus di SMP, lain ari ieu budak teh nu bungsu..?”
“Keur ayeuna mah nya cikal nya bungsu, da kakara hiji..!”
“Geuning ku irit..!?”
“Lain irit,….da nyieun mah geus ti bareto mula, ngan jadina nya kakara ieu.,…Geu,…kuring kawin teh meh geus dua puluh tilu taun, kosongna meh tujuh belasan taun, ayeuna ieu budak umurna tujuh taun jalan..!”
“Mintul meureun..!”
“Ah duka teuing, sakieu ge Alhamdulillah geus dipercaya boga budak..!”
Ari budak nu diomongkeun mah anteng we ngahenggoy emih kocok.
“Geu…ari didinya boga budak sabaraha…?”
“Wah budak mah loba ngan anu bener mah ngan tilu, malah geus boga incu ti anu bungsu…!”
“Geuning….na aya budak nu teu bener…!”
“Lain budak teu bener maksud teh budak asuhan, nya sasieureun sabeunyeureun ngilu mantuan barudak jalanan sina sarakola….!”
“Euhh…mulya kacida atuh…!”
Rada lila paheneng heneng. Kuring ngahenggoy emih kocok, sakali sakali mangnyusutkeun leungeun budak ku kertas tisu, da leungeuna baseuh, atuh manehna ge tonggoy kana mangkok emih kocok.
“Lang ari eta buuk teh disemir, asa angger bae siga kitu…?!”
“Alhamdulillah henteu, ieu mah asli atuh, teu wanoh kana ngaran semir buuk…!”
“Eta we asa angger keneh siga baheula, da kuring ge apal teh eta pedah ningali model buuk didinya, moal poho da kungsi nenget nenget ti palebah tukang…!”
“Ari uing mah enyaan kalinglap Geu ka didinya teh, mun seug didinya teu nanya tiheula, kuring mah moal apal..da eta geuning awak teh asa beuki meber…!”
Manehna ngaheuheu seuri.
“Sakieu mah awak teh geus rada ngorotan da opat taun kaliwat mah leuwih beurat, awak leuwih meber, awewe mah kakolotnakeun teh beuki beunghar, beunghar ku beurat awak…!”

Ngobrol di warung emih kocok teh teu lila, da budak noelan bae ngajak balik, sonona mah kacida jeung manehna teh, sanggeus silih bere nomer telepon jeung serelek (serat elektronik, email tea), terus papisah, manehna ngangkleung kana taksi, ari kuring jeung budak mah kana angkot we.

Peutingna mukaan email, muka email ti peuting teh aya sababaraha maksud, kahiji, ngoprek komputer teu kaganggu ku budak, kadua sugan we atuh bakal leuwih cepet da ari peuting mah kapan ngaranna ge peuting euweuh deui batur nu make, katiluna sugan we mayar telepona rada murah.
Serelek teh ngaburudul loba pisan pangpangna mah ti milis urangsunda, eta we da bulan september 2003 nepi ka opat rebuna sabulan teh, jeung geuning aya serelek ti panyeumpxxx@yahoo.com ke ti saha ieu da anyar teu boga babaturan siga kitu, sanggeus dibuka geuning ti Sigeu.
Ku kuring ngahaja di print, dicitak sangkan tumaninah macana, komo mun bari lalangkarakan.

From : panyeumpxxx@yahoo.com
To : heuxxx@hotmail.com
Sent : 13 Okt 2003 22.43
Subject : Inget baheula.

Lang…, ilaing nyaho teu, nulis ieu email teh uing bari bulucun, tadi kira kira jam dalapan peuting uing taranjang hareupeun eunteung satangtung, buuk teu disisiran, atuh beungeut ge teu dipoles ku wedak estu sahinasna, uing neuteup awak sorangan.
Lir keur maca kajujuran, unggal gurat dina awak mawa lacak tapak baheula, ti luhur tina unggal lambar buuk nepi ka tungtung kuku indung suku ting baranyay laku lampah nu inget ti jaman keur budak nepi ka ayeuna, lir pilem nu puter balik, aya nu gagancangan aya nu kacida launa, nepi ka tembres kalakuan ti bubuk leutikna nepi ka nu pangbadagna, kalan kalan kuring seuri, nyeungseurikeun kalakuan sorangan, teuing seuri naon ngarana bisa jadi seuri maur.
Palebah beuteung naha jadi ngabendeleh kieu, ting berehil tapi lain sepir, palebah pingping nu baheula luis teh ayeuna geus ledis, geus euweuh tapakna, nu aya nampuyakna daging nu teu puguh ujud.
Naha uing boga hak ngarasa era pedah awak siga kieu.. atawa naha uing kudu ngewa ka awak sorangan pedah ramijud, dina wujud identitas naon atuh ari uing..?
Loba sora nu ngomong ti ditu ti dieu majarkeun uing begang majarkeun uing gendut, naha bet nu ditempo teh ngan ukur wujudna wungkul, naha pedah urang teh keur dikepung ku deudeuleuan dina televisi, dina koran, majalah, gambar sisi jalan, dina tas, dina dompet ngan ukur awak, beungeut, naha ngan eta anu pang sohehna keur hiji identitas, jeung deui naha pedah uing awewe kalan-kalan sok aya nu ngan ukur ngadeukeutan pedah uing awewe, ngan ukur dijadikeun objek.
Meunang pan lamun uing ngabandingkeun awak jeung mangsa baheula keur meujeuhna ngora (lain, lain kuring haying ngora saumur-umur), keur jaman loba nu ngudag ngudag boh jajaka boh duda, malah aya nu pangkatna jendral. Uing wenang milih, nu jago karate awakna lempay ngalampanyat, atletis, ngeusi, nu pendek beke tapi mobilna dua weuteuh, nu kakara lulus kuliah, nu boga hotel, nu boga villa di Puncak.
Teuing kunaon maranehna ngudag ngudag, da uing tara tatanya, da sigana lamun bareng indit jeung uing, maranehna siga nu kacida bagjana, siga nu ngagondeng widadari meureun, saha nu teu nyaho ka si Non sakota kabupaten mah, si Non nu boga Mercy dina taun harita, awewe geulis ngora keneh sukses usaha.
Ningali awak dina eunteung, nahanya make jorojoy hayang difoto, difoto keur bulucun, hayang ngabandingkeun jeung awak jaman keur ngora, ngan hanjakal teu boga foto jaman keur budak bari bulucun aya ge foto keur umur tilu taun teu make baju, asana mah karek anggeus mandi difoto ku Bapa Almarhum, eta ge bari gegerewekan da embung mandi, dipaksa ku Mamah, ari ku Bapa kalah hayeuh dioconan, kitu dongeng Mamah, da ari kuring mah tong boro inget, ningali fotona ge teu beda we jeung ningali foto sejena jaman keur leutik.
Kulit beuteung ieu, nu kungsi luis, nu kungsi jadi paneuteup lalaki, waktu kuring ngojay di Hotel tilu puluh taun kaliwat, kulit beuteung ieu nu kungsi mendeyang reuneuh, kulit beuteung ieu kungsi….salingkuh.

Lang….ilaing nyaho teu, waktu uing nelepon ka ilaing, supaya ilaing datang ka Hotel, basa urang rek papisah tea, naon pangna uing ngajak papanggih di Hotel..di kamar 26, enya inget keneh da ngahaja neangan kamar nomer 26 teh ambih sarua jeung umur uing harita, sabenerna lain kamarna aya puluhan, tapi di lantai 2 kamar nomer 6.
Ilaing keketrok kana panto, terus uluk salam…”Assalamualaikum..!”, uing harita hareugeueuen, naha kudu dijawab atawa ngan ukur mukakeun panto, uing nyaho lamun aya salam wajib dijawab, ngan asana geus lila tara ngucapkeun salam siga kitu, harita uing ngan ukur mukakeun panto.
Terus ilaing culang cileung neangan korsi keur diuk, nu terusna mah ilaing diuk dina kasur, enya kapan kamar hotel teh leutik, aya eta ge korsi mah tapi harita dieusian ku tas uing, jeung sababaraha buku, buku buku carita silat Cina.
Malah harita ge uing keur ngeukeuweuk buku nu judulna Telaga Darah, geuning ilaing nyerengeh bari ngomong…”Kahade buku eta mah eusina porno…”
Uing teu nembalan harita teh, da enya buku teh porno pas keur dibaca teh anu kituna pisan, puguh we rada era, terus buku teh dialungkeun, asana uing terus nyician cai herang kana gelas disodorkeun ka ilaing.
Lila ngobrol teh pan meh nepi ka jam dua welas peuting, ilaing terus amitan balik, sabenerna mah ku uing teh rek diajak mondok, rek diajak sare sagebrug
Teuing kunaon, uing ge da teu nyaho, ujug ujug jorojoy we aya niat kitu, teuing pedah uing geus lila rarandaan, dina hate uing teh rek mere kenangan ka ilaing atawa….teuing ah uing ge teu ngarti.
Tapi niat kitu teh teu werat diomongkeun, da ilaing hayeuh we ngajak ngobrol soal sajak-sajak jeung carita pondok nu kungsi ku uing dibacakeun waktu siaran, ari rek make tingkah provokatif hate teh asa teu merean, malah dina hate ngagerentes yen ilaing teh lalaki nu teu surti kahayang awwewe.
Sanggeus ilaing mulang, uing cunggelik sorangan, maca buku jadi teu nafsu, harita uing ceurik…henteu ari ceurik gagauran mah ngan ukur rambay cimata, ceurik pedah kunaon uing ge teu nyaho, ngan dina hate asa aya nu ngagerihan

Serelek ti Sigeu panjang ngagebay, ka beh handapna eusina loba ngadadarkeun pangalaman dirina, dina panungtungan serelekna manehna nulis :

Uing teh ayeuna geus loba incu, ti anu bungsu kakara borojol minggu kamari, awewe, lucu geulis. orok beureum keneh roroesan jeung ceurik, uing ge tangtu kitu, kungsi jadi orok beureum.
Lang…sabebenrna mah kabeh anak jeung incu ge eta anak tere, jeung incu tere, da uing mah teu kungsi boga budak, eta teh kabeh ge anak Si Jendral almarhum, ngan pedah ku uing kabeh budakna diurus, lantaran indungna meunang musibah waktu ngalahirkeun anu bungsu.
Geus ah urang geus tunduh rek sare heula, …sono euy hayang ngobrol deui siga baheula.

Kasubuhnakeun kuring nulis email jawaban keur Sigeu :

To : panyeumpxxx@yahoo.com
From : heuxxx@hotmail.com
Sent : 13 Okt 2003 22.43
Subject : Re:Inget baheula.

Geu….geus dikonci pantona..?
Alusna mah samemeh bulucun teh dikonci heula pantona, bisi ujug ujug aya ucing jalu asup kapan matak wegah akibatna, ucing jalu tea atuh sok kumahkar…eh nu kumahkar mah hayam rek ngendognya…., ucing jalu mah bisi ngarontok, nyakar, kapan aya sayang beurit lin...?!.
(heureuy ah…)
Mun teu salah aya nu kungsi nulis majarkeun “awak teh panjara” teuing panjara naon, aya oge anu nyebut awak teh mesin hasrat jeung aya oge nu nyebut diri……bae lah uing mah moal pipilueun ah kana palebah awak mah, da uing ge ayeuna kieu buktina, teuing boga awak teh naha goreng naha alus, nu leuwih penting mah asal sehat, kapan ceuk paribasa ge banda tatalang raga, raga tatalang nyawa.
Geu….nyaho teu…(nurutan didinya..), samemeh nulis ieu serelek teh uing ngambah heula dina internet, neangan gambar awewe nu umurna lima puluh genep taun bari.…bulucun…! na ari burudul teh geuning loba pisan nya…malah aya nu geus umurna dalapan puluh taun sagala….ambuing eta sayang beurit dina kelekna…..geus huisan…..!
Kabina bina nya, bet aya nu daek nembongkeun awak bari bulucun dina umur anu sakitu geus cueutna, enyaan dina internet mah sagala ge aya, abong kena disebut dunya maya, dunya virtual, dunya kabebasan anu alus saalus-alusna aya, nu goreng sagoreng-gorengna aya.

(Hampura Geu nya…uing geus nyipta nyipta awak didinya…ah teu jauh ti model nu ieu lah…..he he…aya huisan…bari kuring nelek-nelek hiji gambar awewe nu geus kolot nu keur bulucun..!!)

Samemeh poe kamari, kuring sakapeung sok ngawawaas jaman baheula, da anu kaimpleng teh hih…angger we didinya teh awewe geulis, ngora, lincah jeung pinter, implengan teh kakara robah poe kamari saprak panggih tea, enya asa ngagebeg geuning geus kolotnya umur teh, urang teu panggih teh aya kana tilu puluh tauna, lain waktu nu sakeudeung tah., urang teh geus jadi aki-aki jeung nini-nini. ( Geu…ari incu nyebutna naon…Nini, Ene, Eyang atawa Oma…ah ma enya nyebut Oma, kapan Oma mah tina basa Walanda lin..?)
Uing mah bulucun teh lamun keur mandi we, eta ge tara nelek-nelek awak sorangan, gebrus we mandi, lantaran lamun ditelek telek sok manggih nu matak kukurayeun (moal dijentrekeun naon nu matak kukurayeun teh bisi disebut buntut Oa…)
Geus ah, lila lila mah bisi jadi cawokah, sarua sono Geu…!

Si Belang tea.

Ti sanggeus ngirim serelek harita, pleng teu nampa deui serelek ti manehna,

1972

Unggal malem Saptu bari lalangkarakan di tempat indekos, bari ngareureuhkeun kacape, sok mindeng ngadengekeun radio, sok ngahaja neangan sora penyiar awewe, nya manggih sora awewe harita teh keur maca hiji sajak, sanggeus beres macana terus ngagalantang nyarita eusina eta sajak, sajak nu dibawakeun teh lolobana sajak rumaja nu idek liher dina dunya cinta.
Hiji waktu kuring ngawanikeun maneh nelepon ka penyiarna, nyaritakeun sajak nu kungsi dibacakeun ku manehna, kuring nelepon teh lain waktu manehna keur ngajomantara, nya nelepon kitu we atuh sakalian kuring ngawanohkeun diri bari nyebutkeun hayang papanggih, hayang kenalan.
Nya ti harita kuring wawawuhan jeung manehna, kuring nanya manehna, nanya ngaran nu sabenerna, manehna teh teu ngajawab kalawan saerewelena atuh kuring ge teu mere ngaran nu benerna, lantaran mimiti panggih teh kuirng make kaos belang manehna ngageroan kuring Si Belang, teuing meureun asa kurang merenah tungtungna lamun ngageroan teh nyebut Silang, atuh kuring ge ngageroan ka manehna teh Si Geulis sok terus disebut Sigeu.
Geulis, enya da geulis atuh manehna teh geura we awak jangkung ukur beda tilu senti jeung kuring ge, awak ngeusi disebut begang henteu, disebut montok henteu, donto meureun babasaanana teh, ari beuebeungeutan rada rada siga bentang pilem , sahanya poho deui ngaranna, ngan ieu mah beungeut Sunda, geulis Sunda.
Mun aya nu nyebut Silang ka kuring pasti manehna, kiru deui lamun nyebut Sigeu bisa dipastikeun kuring nyebut manehna.
Dina ngabasakeun teh sok teu puguh sakapeung kuring, uing, didinya, ilaing kalan-kalan ana jeung ente, sok sanajan umur kuring leuwih ngora, manehna teu nganggap dirina leuwih kolot anu kudu dihormat. Umur kuring 23 taun ari manehna geus nincak 26 taun.
Lila wawawuhan teh, sataun leuwih,
Papisah soteh pedah kuring kudu miang ka luar jawa, pindah dines, nya peuting harita kuring nepungan manehna di kamar 26 di hiji hotel, keur kenang-kenangan manehna mere pulpen, ceuk manehna “Mun nulis surat keur uing kudu make pulpen ieu, mun teu make pulpen ieu mah uing moal ngabales…”.
Dikangaranan pulpen, kakara ge sababaraha poe ge geus leungit, teuing kamana, atuh kuring nulis surat ka manehna make pulpen sejen, enyaan lebeng euweuh balesan.

2004

Kuring narima deui serelek ti manehna eusina teu panjang “….Lang uing rek jarah, rek munggah haji, do’akeun nya,…..jeung hampura bisi aya dosa boh nu karasa boh nu teu karasa, ari ente geus ka haji..?, mun encan mah sok we kukumpul keur ongksona ti ayeuna,…..eh uing ge ongkosna lain meunang kukumpul tapi pamere ti anak tere nu panggedena…”

Kuring maca serelekna teh sababaraha balikan, ….dina hate ngucap sukur jeung ngadoakeun sangkan inyana salamet, jeung jadi hajjah anu mabrurroh.
Teuing tah lamun geus balik ti Mekah, naha make tiung wungkul atawa ganti jadi make jilbab, atawa naha bakal eureun buukna make semir.
Serelek ti manehna ku kuring teu dibales, angkanan teh engke we satutas manehna munggah haji rek manggihan, rek didatangan, bari jeung rek aya nu ditanyakeun sabab dina serelekna nyebutkeun kungsi ngandeg, tapi dina serelek eta keneh nyebutkeun teu boga budak.

Cilengkrang Desember 2004.

(Di muat dina majalah Cupumanik No.39 Oktober 2006)

Popular Posts